Jangan Biarkan Ia Merebut Milik Orang Lain

S ering, kan, anak usia ini merebut mainan teman atau saudaranya? Wajar, kok, Bu-Pak, tapi tak boleh dimaklumi. Ia harus diarahkan agar tak berkembang jadi pribadi yang tak peduli tatakrama.

Anak usia ini, terang Sritje Hikmat, S.Psi . belum punya konsep kepemilikan, hingga ia belum bisa membedakan mana yang miliknya dan mana milik orang lain. Kondisi ini “diperparah” dengan pola pikir anak yang masih konkret fungsional, selain sifat egosentris yang masih melekat kuat. Di mata batita, dirinyalah yang jadi pusat dunia, hingga semua yang ada memang untuknya dan disediakan khusus untuk memenuhi kebutuhannya. Itu sebabnya, lagi-lagi dalam kaca mata batita, boleh-boleh saja, kok, merebut dan memiliki barang orang lain.

Jadi, tak perlu terkaget-kaget, ya, Bu-Pak, bila si kecil mengklaim, “Ini punyaku, ini juga punyaku,” sambil meraup semua mainan kakaknya. Jangan pula malu kala si kecil memboyong mainan temannya ke rumah, apalagi sampai memarahinya. “Justru dari sini, anak berproses menuju kemampuan ber-sharing atau berbagi,” kata Itje, sapaan akrab lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) yang jadi konselor di DIA-YKAI, Jakarta, ini.

Tapi tentu harus dengan pengarahan kita, ya, Bu-Pak, agar si kecil mau berbagi dan memahami berbagai nilai. Kalau tidak, ia bisa kebablasan dan dampaknya bukan cuma sesaat buat si kecil. Ia bisa dikucilkan dari pergaulan, lo. Yang lebih parah, jika budaya saling rampas tumbuh sumbur di rumah, ia akhirnya terbentuk jadi pribadi yang tak mengindahkan tatakrama, cenderung main ambil tanpa permisi saat menginginkan sesuatu.

BIASAKAN MINTA IJIN

Nah, karena akar masalahnya belum punya konsep kepemilikan, maka yang harus kita lakukan ialah mengenalkan konsep tersebut pada si kecil. Misal, “Mobil-mobilan yang warnanya merah ini punya Kakak. Nah, mobil-mobilan yang warnanya hijau ini punya Adik.”, “Baju ini milik Ibu, sepatu itu punya Ayah.”, dan seterusnya.

Ia pun harus dibiasakan minta ijin dulu sebelum menggunakan barang yang bukan miliknya. Misal, “Dik, mobil-mobilan ini punya Kakak. Kalau Adik mau pinjam, harus bilang dulu sama Kakak, boleh enggak.” Meski kemampuan verbalnya masih terbatas hingga lafalnya belum jelas, namun kita tetap harus “memaksa” si kecil minta ijin dulu.

Tentunya kebiasaan minta ijin dulu harus diberlakukan pula pada semua anggota keluarga. Dengan begitu, kita sekaligus menanamkan budaya sikap santun dalam keluarga.

JANGAN BERPIHAK

Penting pula memberi pengertian pada si kecil untuk menerima konsekuensinya bila orang lain tak ingin meminjamkan kendati ia sudah minta ijin. “Bila si kakak memang tak mau meminjamkan mainannya, ajari si adik untuk menerima kenyataan itu.” Agar sama-sama enak, kemukakan keberatan kakak sambil alihkan perhatian adik, misal, “Kita main yang lain saja, yuk, Dik. Soalnya, Kakak mau main juga, sih.”

Celakanya, yang kerap terjadi justru si kakak diminta mengalah terus, “Kakak ngalah aja, deh. Kasihan, kan, Adik. Sebentar lagi, dia juga pasti bosan, Kak.” Meskipun reasoning semacam ini ada benarnya bila dikaitkan dengan masa eksplorasi. Bukankah batita umumnya akan terpuaskan hanya dengan sekadar melihat dan memegang benda yang dimaksud? Jadi, motivasinya memang bukan ingin merebut, melainkan semata-mata dorongan egosentrisme yang kuat tadi.

Namun begitu, kita tak boleh sebatas hanya memaklumi bahwa hal tersebut memang wajar dalam perkembangan anak usia ini, termasuk pula memaklumi anak usia ini belum tahu aturan/tatanilai. Justru karena kita mengerti kondisi anak usia ini seperti itu, maka kita harus mengajarkannya. Kalau tidak, ia akan berpikir, “Ah, Bunda nggak pernah ngelarang, kok. Jadi, aku boleh-boleh saja, dong, ngerebut.” Kepeduliannya jadi tak terasah, “Kalau aku mau sesuatu, mesti dapat, nggak peduli bagaimana caranya dan apa akibatnya pada orang lain.”

Lagi pula, dengan kita minta si kakak atau anak yang lebih besar untuk mengalah, dampaknya juga tak bagus buat si kakak. Ia merasa diperlakukan tidak adil, misal. Jadi, jangan pernah terpancing untuk “memenangkan” si adik, ya, Bu-Pak.

AJARKAN EMPATI

Begitu pun bila si kecil menginginkan mainan temannya, kita tak boleh berpihak kepadanya. Ingatkan dia untuk minta ijin dulu pada temannya. Ia pun harus diajarkan untuk juga meminjamkan mainannya. Bila ia cuma mau pinjam tanpa mau meminjamkan, kita harus berani bersikap tegas. Tapi bukan dengan cara memarahinya di depan si teman, lo, melainkan beri ia pilihan, “Kita pulang saja dan Adik hanya boleh main kalau enggak mengambil mainan teman.”

Pada si kecil perlu pula diajarkan untuk berempati, “Bunda pingin tahu, deh, gimana, sih, perasaan Adik kalau mainan kesayanganmu Bunda ambil. Pasti Adik sedih dan ingin marah, kan? Nah, begitu juga teman Adik.” Contoh sederhana ini, menurut Itje, biasanya lebih mudah. “Jelaskan juga, tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti anak, kalau ia merebut terus, tak akan ada yang mau main dengannya.”

Strategi lain perlu diterapkan bila si kecil dan temannya sama-sama berusia batita, sama-sama keras dan tak ada yang mau mengalah, yakni alihkan pada permainan lain yang lebih mengutamakan kebersamaan. Misal, “Kita main kereta-keretaan aja, yuk. Adik tunggu di sana dan Iwan di sini.” Dengan begitu, si kecil dan temannya akan lupa pada “percekcokan” mereka, sementara kepuasan bermain bisa tetap terpenuhi.

Bila si kecil sudah terlanjur merebut mainan teman, apalagi ia juga menolak kala diminta mengembalikan mainan itu dan malah mengamuk, mau tak mau kita harus bicara dengan orang tua si teman. “Minta maaf kepada si orang tua dan tanyakan, boleh-tidak mainannya dipinjam sebentar.” Tapi sesudahnya, segera kembalikan bila si kecil sudah lupa pada mainan itu.

Bila setelah dikembalikan ternyata si kecil ingat lagi pada mainan itu, “katakan terus dan jangan bohongi mainan itu dimakan tikus, misal. Kemudian alihkan perhatiannya dengan melakukan aktivitas yang disukai anak semisal baca cerita.” Pesan Itje, jangan sekali-kali mengalihkan perhatian si kecil dengan menjelek-jelekkan atau membanding-bandingkan semisal, “Ah, mainan jelek kayak gitu aja dimauin. Mainan kamu, kan, lebih bagus dari mainan dia.” Cara begini cuma menimbulkan persaingan tak sehat. Lebih baik, unggulkan saja miliknya tanpa harus dibanding-bandingkan, “Adik, kan, juga punya mobil-mobilan. Mobil-mobilan Adik bagus, lo. Lihat, nih, pintunya bisa dibuka. Bagus, kan?”

GALI PERASAAN ANAK

Hal lain yang harus diperhatikan, bukan tak mungkin perilaku si kecil yang seperti itu lantaran ia ingin mendapat perhatian. Bila demikian, saran Itje, kita harus introspeksi diri; apakah perhatian kita lebih tercurah pada hal lain ketimbang dirinya hingga ia merasa tak diperhatikan lalu berulah dengan merebut milik teman/saudaranya. Hati-hati, lo, sekali ia berulah begitu dan mendapat perhatian, ia akan mengulanginya. Ia belajar, “Oh, lewat cara ini, ternyata Ayah dan Bunda jadi perhatiinaku.”

Di sini, kepekaan kita diperlukan untuk menentukan sejauh mana perilaku si kecil bisa ditolerir. “Kan, kita bisa menilai, kenapa dan ada apa sebenarnya dengan anak; kapan terjadi dan bagaimana frekuensinya, dalam arti baru kali ini atau sudah ke sekian.” Selain, kita perlu menjajaki perasaannya hingga alasannya mengambil mainan teman bisa terungkap jelas. Misal, “Sebenarnya kenapa, sih, Adik? Lagi kesel, ya, sama Bunda?” Lewat dialog ini, kita sekaligus mengajak ia mengenali emosinya karena anak usia ini, kan, belum bisa membedakan kapan ia tengah marah, kesal, atau sedih.

Ajarkan pula bagaimana ia harus mengelola gejolak emosinya, “Kalau Adik kesal sama Bunda, bukan begitu caranya.”, atau, “Kalau Adik pingin sesuatu, bilang, dong, sama Bunda, bukan malah ngamuk atau diem begitu.”

Bila ia sempat ngamuk, cobalah tenangkan dirinya dengan memeluknya, misal. Akan sia-sia, Bu-Pak, bila di saat si kecil nangis, kita malah repot tanya segala macem atau sambil marah-marah.

Yang tak kalah penting, kembangkan diskusi hangat dalam keluarga dan biasakan anak mengutarakan keinginannya. “Ajari anak untuk mengenali keinginan dan kebutuhannya. Dari situ, ia bisa digiring untuk mengerti mana yang harus dipenuhi segera dan mana yang bisa ditunda, hingga ia pun terbiasa menahan diri untuk tak merebut milik orang lain sekalipun sangat menginginkannya,” tutur Itje.

MODEL BUAT ANAK

Tapi jangan harap si kecil langsung berubah, ya, Bu-Pak. Soalnya, mengenalkan konsep kepemilikan dengan segala aspeknya seperti diurai di atas, bukan hal mudah; butuh waktu dan kesabaran. Itulah mengapa, pengenalannya harus dilakukan secara perlahan dan anak pun harus diingatkan terus-menerus.

Temperamen dan kemampuan daya tangkap anak juga berpengaruh, lo. Ada yang cepat menerima, namun tak sedikit pula yang perlu waktu dan butuh kasus untuk belajar dari pengalaman. Jadi, kita pun harus mengenali sifat/karakter dan tahu selera anak. Lewat pengenalan ini setidaknya kita bisa mengantisipasi perilaku anak semisal mainan apa yang sangat didambakannya, kapan ia berbaik hati meminjamkannya pada teman, dan kapan pula saatnya ia tak bisa diganggu gugat.

Tak kalah penting, kita harus jadi contoh buat anak. Jangan lupa, orang tua adalah model atau sosok peniruan buat anak. “Apa yang dilihat, direkam, dan dipelajari anak dari orang tua, itulah yang ditiru dan diterapkan dalam interaksinya dengan lingkungan.” Jadi, ingat Itje, jangan ngebos dan menganggap diri paling berkuasa di rumah, ya, Bu-Pak, lantas bersikap seenaknya.

Selain itu, dituntut konsistensi dan kesamaan cara mendidik antara ayah dan ibu. Bila ibu melarang, misal, sementara dengan enteng, ayah bilang, “Nggak apa-apalah, anak kecil ini!”, atau “Udah, deh, belikan ajalah daripada rewel.”, si kecil akan bingung, mana yang harus dituruti. Ia pun tak bisa mengakui otoritas orang tuanya atau malah memanfaatkan salah satu pihak yang dianggapnya lemah. Akibatnya, perilaku main rebut jadi terus berkembang.

Nah, Bu-Pak, kini sudah ketemu solusinya, kan?

Th.Puspayanti/nakita

Hati-Hati Mandi Bersama Si Kecil

S ering, kan, orang tua, khususnya ibu, mandi bersama anak? Sebaiknya jangan dibiasakan, deh, karena bisa memancing si kecil berrperilaku “genit” dan melakukan “masturbasi”.

Menurut Dra. Dewi Mariana Thaib, umumnya mandi bersama anak dilakukan lebih karena pertimbangan praktis saja. Misal, ibu yang harus bergegas ke kantor bisa lekas selesai bersiap diri sekaligus memandikan anak tanpa terlalu banyak buang waktu. Hingga, usai mandi, ia bisa langsung berdandan sementara anak cukup diserahkan ke pengasuh. Atau, boleh jadi si ibu enggan kotor atau basah lagi ketika harus memandikan anaknya secara terpisah.

Sebagian lagi memang sudah terbiasa mandi bareng. Dengan alasan demi kebersamaan keluarga, misal, hingga bila tak mandi bersama-sama, anak bakal mogok mandi. “Nah, ketimbang si kecil tak mau mandi, orang tua pun mengalah dengan meneruskan kebiasaan mandi bersama ini,” ujar psikolog dari Klinik Medika Bayuadji, Jakarta, ini.

Ada pula yang menerapkan mandi bersama lantaran khawatir anaknya kelak bingung dan menyimpan banyak tanya mengenai tubuhnya tanpa mendapat jawaban yang benar. Nah, mandi bersama dianggap lebih pas untuk memberikan pendidikan seks pada anak ketimbang harus menerangkannya pakai gambar-gambar. Apalagi, tak mudah mendapatkan gambar-gambar sederhana yang mudah dipahami anak, terutama yang berkaitan dengan organ kelamin.

PERHATIKAN USIA

Tentu sah-sah saja kita mandi bersama si kecil, apa pun alasan dan tujuannya. Namun, Dewi mengingatkan agar kita juga memperhatikan usia anak. “Jika usianya masih 1-2 tahun, mungkin relatif aman karena ia belum lancar berbicara dan sosialisasinya pun belum meluas. Hingga, tipis kemungkinan ia akan menyebarluaskan kepada orang-orang luar tentang apa yang dilihatnya saat mandi bersama.”

Namun bila usianya menjelang 3 tahun, “biasanya anak sudah mulai lancar berbicara dan ia pun mulai banyak bergaul, hingga bisa saja ia menyebarluaskan ‘pengetahuan’nya itu kepada teman-teman di lingkungan sosialisasinya.” Terlebih, apa yang dilihatnya selama mandi bersama merupakan sesuatu yang istimewa atau setidaknya berbeda dengan apa yang umumnya dilihat anak-anak. Disamping, ia pun ingin mendapat tanggapan dari teman-temannya hingga ia akan merasa bangga menjadi sosok yang lebih tahu dibanding teman-teman sebayanya.

Jadi, mulai usia 2 tahun sebaiknya acara mandi bersama tak diteruskan, ya, Bu-Pak. Bahkan, sekalipun kita tak keberatan si kecil ngomongin bagian-bagian tubuh kita kepada teman-temannya. Soalnya, seiring kemampuan berbicara si kecil yang mulai lancar, rasa ingin tahunya pun makin berkembang, hingga ia jadi makin banyak bertanya, termasuk hal-hal yang menyangkut seksualitas. Nah, sudah siapkah menjawab pertanyaan-pertanyaannya?

Ingat, lo, setiap pertanyaan anak harus dijawab, apa pun pertanyaannya. Jawabannya juga harus benar, bukan membingungkan atau malah menyesatkan. Dalam arti, kita tak boleh menutupi kenyataan yang dilihat anak. Tentu menjawabnya dengan bahasa yang mudah dimengerti anak sesuai tingkatan usianya. Misal, si Upik bertanya, “Bunda, kenapa, sih, tempat pipisku enggak sama seperti punya Ayah?”, kita harus menjawabnya dengan benar, seperti, “Karena Ayah laki-laki dan kamu perempuan seperti Bunda.”

Itulah mengapa, tekan Dewi, bila kita belum siap memberikan jawaban yang benar dan memadai, “hindari mandi bersama anak.” Jikapun terpaksa, sebaiknya kita mandi dalam keadaan tetap berpakaian. Dengan begitu, tipis kemungkinan si kecil akan bertanya macam-macam. Paling yang ditanyakan, “Kok, Bunda mandinya pakai baju, sih?”

Cara lain, bangunlah lebih awal lalu segera mandi. “Paling lama cuma 10-15 menit, kan?” Bila si kecil sudah bangun saat kita ingin mandi, toh, kita bisa minta bantuan untuk suami untuk menjaganya. Usai mandi, barulah kita mandikan si kecil.

“MASTURBASI” DAN “GENIT”

Hal lain yang perlu diperhatikan, menjelang akhir usia batita, anak mulai menaruh perhatian pada perbedaan anatomi lelaki dan perempuan, hingga keinginan yang bersifat seksual pun mulai muncul. Di sisi lain, rasa ingin tahunya yang besar mendorong ia bereksperimen dengan dunia sekitarnya, termasuk bagian-bagian tubuhnya sendiri yang salah satunya alat kelamin.

Dengan demikian, acara mandi bersama bersama orang dewasa yang berlainan jenis kelamin harus dihentikan. Kalau tidak, “dampaknya tak baik buat anak,” tukas Dewi. Dikhawatirkan, dengan seringnya si kecil melihat alat kelamin lawan jenisnya, ia jadi terpancing untuk memainkan alat kelaminnya. Misal, memegang-megangnya hingga mendapatkan kenikmatan tertentu.

Jangan salah, lo, kendati ia belum bisa mengasosiasikan pikirannya terlalu jauh, tapi ia akan cenderung mengulang dan mengulang lagi bila pengalaman tersebut memberi kenikmatan buatnya. Kalau sudah begitu, bukan tak mungkin si Upik atau si Buyung akan menghabiskan banyak waktunya dengan “masturbasi”. Celaka, kan? Paling tidak, perkembangan sosialisasinya jadi terhambat. Bukankah menjelang akhir masa batita ia seharusnya mulai melebarkan “sayap” ke dunia di luar lingkungan keluarga alias bersosialisasi?

Tak cuma itu, bisa pula terjadi si kecil akan mencari kenikmatan serupa di lingkungan sekitarnya; entah ke pembantu, saudara sekandung, maupun teman-temannya. Ia mencoba memegang-megang, memeluk, atau bahkan mencium teman seusia yang berlainan jenis kelamin. Coba, deh, perhatikan. Cukup banyak, kan, bocah lanang yang dibilang genit lantaran suka memegang-megang atau memeluk anak perempuan sebayanya maupun wanita dewasa?

Nah, sebelum si kecil “terjebak” dalam kondisi yang tak menguntungkan ini, sudah sepatutnyalah bila acara mandi bersama dihentikan.

SASARAN PELECEHAN SEKSUAL

Lagi pula, dengan anak selalu mandi bersama kita, akan menghambat proses kemandiriannya. Selain, dikhawatirkan anak jadi mogok mandi bila kita tak ada. Namun yang paling membahayakan, bila anak akhirnya mandi bersama orang dewasa lain semisal pengasuh kala kita tak ada.

Pasalnya, bisa saja, kan, si kecil bertanya ini-itu seputar seksualitas? Nah, si pengasuh yang tingkat pendidikannya relatif rendah, “bisa jadi akan menjawabnya asal-asalan. Padahal, penjelasan yang salah seputar seks akan membingungkan atau malah menyesatkan anak.” Hati-hati, lo, Bu-Pak, dampaknya buruk buat si kecil. Salah satunya, ia akan menganggap alat kelaminnya sebagai barang mainan atau sumber kenikmatan.

Bahaya lain, bukan tak mungkin si kecil dijadikan sasaran pelecehan seksual oleh si pengasuh atau orang dewasa lain. “Kalau cuma sebatas dipegang untuk dibersihkan badannya, sih, enggak apa-apa. Anak juga takkan merasa apa-apa; ia hanya merasa dimandikan biasa.” Namun bila ia benar-benar dijadikan sasaran pelecehan seksual, bukan tak mungkin ia akan menikmatinya. Dampaknya tak kalah buruk, lo. “Anak akan merasa ketagihan. Hingga, kala kenikmatannya tak dipenuhi, ia akan mencari dan memintanya lagi.”

Untuk menghindari kejadian tersebut, kita harus menanamkan pada si pengasuh agar mandi lebih dulu sebelum memegang si kecil. Selain kebersihan si pengasuh lebih terjaga, tak ada lagi alasan si kecil harus mandi bersama pengasuhnya. Sementara sorenya, untuk tahu si kecil mandi bersama pengasuh atau tidak, kita bisa mengajaknya bicara. Misal, “Dek, tadi sore mandi sama siapa? Mandi sendiri atau sama Mbak? Mandinya bagaimana?” Nah, kita perlu waspada bila ternyata ia menceritakan kegiatan mandi sorenya bersama pengasuh.

Sebenarnya, menurut Dewi, mandi bersama pengasuh di waktu sore pun tak perlu terjadi. Caranya, minta si pengasuh memandikan anak lebih dulu, setelah itu baru dirinya mandi cepat-cepat. Sementara pengasuh mandi, beri anak kegiatan yang disukainya semisal bermain lego, menonton acara TV favoritnya, dan lainnya.

BELAJAR MANDI SENDIRI

Nah, mengingat dampaknya sungguh tak sehat buat si kecil, kenapa kita tak biasakan saja ia mandi sendiri? Apalagi ini, kan, berkaitan dengan proses kemandirian. Tentu caranya enggak drastis, ya, Bu-Pak, karena ia, kan, belum terampil mandi sendiri.

Awalnya, kita temani ia mandi sambil mengajarkan cara mandi yang betul; dari cara mengguyur badan, menggunakan sabun, sampai memakai handuk dengan benar. Setelah itu, secara bertahap kita minta ia mandi sendiri, mula-mula sambil tetap kita bantu hingga akhirnya ia bisa mandi sendiri. Tentu butuh waktu, ya, Bu-Pak, sampai akhirnya si kecil bisa dilepas mandi sendiri. Karena itu, kepada pengasuhnya pun kita minta agar ia mengajarkan si kecil mandi sendiri.

Untuk mendukung pembelajaran ini, kamar mandi dan perkakas mandi pun berperan. Jangan sampai bak mandinya terlalu tinggi hingga tak terjangkau si kecil. Akan sangat membantu bila menggunakan ember atau shower jika ada, sementara sabun mandinya gunakan yang cair karena lebih praktis buat anak. Selain itu, seiring pembelajaran, si kecil pun perlu ditanamkan pengertian bahwa ia sudah cukup besar dan sudah saatnya belajar mandi sendiri. Dukungan dari kita sangat penting artinya buat keberhasilannya mandi sendiri.

Yanti/Dedeh Kurniasih/nakita

JANGAN DIMARAHI

Jika mandi bersama telah berdampak buruk semisal si kecil jadi “genit” atau “masturbasi”, jangan ia dimarahi apalagi dihukum fisik seperti dicubit atau dipukul. Cara begini nggak bakalan mempan buat anak batita. “Wong, dia enggak ngerti, kok!” bilang Dewi. Bahkan, dinasihati panjang lebar pun enggak ada gunanya.

Yang terbaik, alihkan secara perlahan. Bila ia lebih kerap sendirian, misal, ajaklah ke lingkungan sosial yang memungkinkan ia bergaul dengan teman-teman sebayanya. “Bisa dengan melibatkannya dalam kegiatan tertentu yang diminati seperti menari, menyanyi, menggambar, atau lainnya.” Lewat cara ini, menurut Dewi, biasanya anak akan lupa, kok, dengan yang sudah dilakukannya.

Sedangkan perilaku “genit”nya bisa diatasi dengan memberi pengertian yang bisa diterima akalnya. Misal, si Buyung senang mencium teman perempuannya. Katakan padanya, “Buyung enggak boleh genit seperti itu sama teman ataupun orang lain, karena belum tentu ia senang dicium oleh Buyung. Kalau dia enggak senang, nanti Buyung dijauhi, lo. Akhirnya, Buyung jadi enggak punya teman. Nah, Buyung enggak mau seperti itu, kan?” Kendati masih batita, si kecil bisa mengerti, kok, dengan penjelasan seperti ini.

Bahaya Keseringan Minum Obat

B ila terlalu sering minum obat, bisa jadi ada komplikasi di organ tubuh si kecil. Karena itu, Bu-Pak, jangan sembarangan memberi obat pada anak.

Memang saat si kecil sakit, ia harus minum obat. Tapi, tentu tak perlu khawatir memikirkan efek samping obatnya dulu, Bu-Pak. Toh, saat meresepkan obat, dokter sudah menghitung untung ruginya bagi si kecil. Sehingga selama obat itu diresepkan dokter dan diberikan sesuai indikasi penyakitnya, ya, tak masalah. Apalagi dokter sudah menghitung dosis yang paling tepat bagi si pasien dan lama penggunaan obat tersebut. “Misalnya, untuk menghilangkan infeksi, pasien diberi obat antibiotik untuk batas waktu tertentu dan harus dihabiskan. Bisa juga dokter hanya memberikan obat batuk pilek saja tanpa antibiotik karena dianggap tak ada suatu infeksi,” jelas Dr. Kishore R.J, SpA, dari RS Hermina Podomoro, Jakarta.

Yang repot, kalau kemudian orang tua tak tertib memberikan obat pada anak. Karena, anak belum bisa mandiri dalam soal minum obat, kan? Misalnya, tukas Kishore, lantaran menganggap sudah sembuh antibiotiknya distop. Akibatnya bukan jadi sembuh, lo, Bu-Pak, tegas Kishore, malah bisa tak efektif untuk penyembuhan. “Kumannya akan jadi resisten.”

ASAL-ASALAN

Sebaliknya ada juga orang tua yang gampang memberikan obat pada anak. Misalnya, setiap kali badan anak panas sedikit saja, langsung diberi obat penurun panas. Tanpa disadari orang tua, hal ini bisa saja jadi sering dilakukannya; saat panas lagi minum kembali obat yang sama, begitu seterusnya. Nah, hal ini justru bisa menjadi berisiko bagi si anak. Karena obat-obat bebas seperti parasetamol untuk penurun panas, hanya bisa diberikan untuk sementara. Nah, pemberian tanpa kontrol tentu akan merugikan di kemudian hari. “Jadi, orang tua harus rasional memberikannya, misalnya, cukup 3-5 hari. Selanjutnya berkonsultasi ke dokter.”

Atau bisa juga orang tua malah bertindak ekstrem. Karena, misalnya, kita tahu efek parasetamol bisa mengakibatkan kerusakan fungsi hati, jadi sama sekali tidak mau memberikan obat tersebut kendati anak sedang panas. “Tentu ini malah merugikan anak, karena bisa terjadi kejang. Bukan tidak mungkin orang tua malah mengeluarkan biaya lebih mahal bila sakit berlanjut menjadi parah.”

Jadi, langkah terbaik adalah orang tua harus tetap membawa anak ke dokter untuk diperiksa penyakitnya dan diberi obat yang tepat.

SELALU RAJIN MEMONITOR

Jadi, Bu-Pak dalam memberikan obat pada anak tak bisa sembarangan obat begitu saja, baik dari jenis obat, jumlah obat, berapa kali pemberian, sampai cara pemberian. Karena itu, lanjut Kishore, bila timbul gejala sakit pada anak segeralah ke dokter. “Nah, obat yang diberikan harus sesuai petunjuk dokter.”

Satu atau dua hari sebelum obat habis, orang tua sebaiknya membawa anak kembali (bila ia belum sembuh) untuk dievaluasi. Sehingga dokter akan memeriksa kembali penyakitnya, lalu menilai perlu tidaknya obat diganti, diteruskan atau dihentikan. Juga dievaluasi ada tidaknya efek samping dari penggunaan obat yang sudah diberikan.

Nah, seandainya dokter memberikan obat dan kemudian timbul suatu reaksi. Semisal setiap kali diberikan obat bayinya jadi gelisah, rewel, nangis atau reaksi lain yang tak seperti biasanya maka harus dikonsultasikan kembali pada dokter tanpa harus menunggu obat tersebut habis. Semisal, anak yang didiagnosis terkena TBC, kemudian diresepkan obat tertentu. Bila kemudian timbul kuning seusai diberi obat tersebut, segera konsultasikan ke dokter. “Jangan tetap memberikan atau mengulang-ulang kembali obatnya tanpa sepengetahuan dokter. Bisa jadi yang ada malah anak meninggal karena terjadi kerusakan hati yang parah,” terang Kishore.

Jadi, menurut Kishore perlu ada kesadaran dan pengetahuan dari orang tua dalam pemberian obat pada anak. Apalagi pada pemberian obat-obatan dalam jangka lama. Tentu saja sangat berkaitan dengan pertumbuhan anak. “Hal ini sangat tergantung dari luas kerusakan yang terjadi, cepat tidak penyakitnya terdeteksi dan cepat tidaknya mengatasi efek samping obatnya.” Artinya, dalam pemberian obat, kontrol dokter tetap diperlukan, ya, Bu-Pak.

Nah, tentu kini kita bisa bertindak lebih bijak lagi, ya, Bu-Pak, demi kesehatan si kecil.
EFEK SAMPING ANEKA OBAT

Sebetulnya obat itu berguna untuk kesembuhan dari suatu penyakit. Tapi, aku Kishore, semua jenis obat punya efek samping dan tetap beracun bagi tubuh. “Kecuali, bila dipakai secara rasional dan dalam jangka pendek tentu tak menimbulkan efek samping yang merugikan. Jadi tergantung rasionalisasinya.” Efek samping tersebut, tambahnya, muncul pada pemakaian obat-obat tertentu dan dalam jangka waktu yang lama. “Ini yang harus lebih berhati-hati dengan efek sampingnya.”

Nah, kita bisa lihat uraian di bawah ini mengenai efek samping jenis obat-obatan bila diberikan dalam jangka waktu lama.

* Obat Anti TBC

Obat ini diberikan dalam jangka waktu lama pada anak yang memang mempunyai riwayat penyakit TBC. Bisa enam bulan bahkan sampai satu tahun. Pemberian obat selama itu merupakan suatu keharusan dan harus disiplin serta teratur, agar penyakitnya hilang.

Tentu saja pemakaian obat dalam jangka lama ada efek sampingnya. Terutama ke organ hati, di mana ada peningkatan SGOT dan SGPT dalam darah, yaitu peningkatan enzim-enzim dari hati. Tingginya kadar ini tergantung dari kerusakan hatinya. Biasanya anak akan tampak kuning.

Dulu sering dipakai obat anti TBC berupa suntikan streptomycin. Efeknya bisa menyebabkan ketulian dan juga gangguan pada ginjal. Tapi sekarang obat tersebut jarang dipakai. Obat anti TBC yang sekarang banyak dipakai adalah Ryampisin, INH dan Pyrazinoid.

“Untuk mengurangi efek samping dari pemakaian obat anti TBC jangka lama ini bisa di-back up dengan pemberian obat-obatan yang melindungi organ hati. Alternatif lain dengan merendahkan dosisnya.”

* Obat Anti Kanker

Pada anak penderita kanker darah (leukimia) atau anak dengan tumor ganas, pengobatan dilakukan antara lain dengan pemberian obat-obatan sitostatik. Namun pemberiannya harus sesuai aturan. Pengobatannya bisa dalam jangka waktu lama 1-2 tahun dan bahkan sampai 5 tahun. Selama itu pula obat-obatan tersebut harus tetap diberikan. Kalau tidak, penyakitnya tak akan hilang.

Pemakaian obat sitostatik harus dimonitor karena mempunyai efek samping di seluruh tubuh. Selain mematikan sel-sel kankernya juga bisa merusak sel-sel tubuh lainnya. Rambut anak bisa jadi rontok, kadar HB turun dan juga bisa terjadi risiko perdarahan karena trombositnya turun atau ada bagian tubuh yang rusak, jumlah lekositnya juga menurun, dan kulit jadi keriput.

Terkadang dalam keadaan tertentu, setelah diberikan obat anti kanker anak jadi pucat dan HB-nya turun. Bila keadaannya seperti itu maka harus dilakukan transfusi darah. Apabila terjadi perdarahan maka anak harus diberikan trombosit.

“Untuk mengatasi efek samping dari penggunaan obat anti kanker, maka yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan nutrisi yang baik pada anak. Sehingga sel-sel yang rusak bisa tergantikan dengan protein yang didapat dari makanan,” terang Kishore.

* Obat Anti Kejang

Pada anak yang mempunyai riwayat kejang, semisal karena penyakit ensefalitis (radang otak). Awalnya mungkin dengan pemberian antibiotik semisal untuk 10-20 hari. Biasanya kemudian pemberian dalam bentuk vitamin yang tidak menyebabkan kerugian. Seperti untuk mencegah kerusakan fungsi otak lebih lanjut. Lalu diberikan juga obat untuk memperbaiki fungsi sirkulasi darah ke otak dan juga untuk memperbaiki fungsi sarafnya.

Penggunaan obat dalam jangka panjang pada anak yang punya riwayat kejang seperti penyakit di atas adalah obat anti kejang. Efek samping obat dalam jangka lama ini tergantung jenis obatnya. Semisal, pemberian obat Luminal maka efeknya anak jadi hiperaktif, tak bisa diam, selalu bergerak terus. Atau pemberian asam valproat yang bisa menyebabkan gangguan pankreas dan juga menurunkan kadar trombosit.

“Ada tidaknya efek samping dari penggunaan obat-obatan anti kejang dapat diketahui dari pemeriksaan darah.” Karena itu, selama anak mengkonsumsi obat-obatan tersebut harus selalu dimonitor. Biasanya dievaluasi secara berkala, misalnya, dalam waktu 6 bulan atau satu tahun, tergantung dari klinisnya. Bila jumlah trombosit di bawah normal (normal: 150-200 ribu) biasanya sudah menimbulkan efek samping. Ini akan menyebabkan perdarahan. Fungsi pankreas pun mungkin terganggu; yaitu fungsi lipase (enzim yang membantu mencerna lemak/lipid) dan amilase (enzim untuk membantu pencernaan). Jika dalam darah kadar enzim tersebut meningkat berarti ada kerusakan pada pankreas.

* Obat Batuk Pilek

Tentu obat ini tak diberikan dalam jangka panjang. Bila anak terkena sakit batuk pilek maka dengan pemberian obat selama 3- 5 hari atau 1-2 minggu saja sudah sembuh. Setelah jangka waktu itu tak ada penumpukan zat obat dalam tubuh. Jadi rata-rata penggunaan obat ini tak ada efek sampingnya. Umumnya dalam hal pemberiannya pun sesuai resep dokter. Misalnya, kalau batuk pileknya sudah berhenti harus dihentikan penggunaannya.

“Biasanya dalam pemberian obat batuk pilek disertai pula dengan pemberian obat antibiotik bila ada indikasi suhu anak panas; berarti ada infeksi.” Tapi kalau tidak ada indikasi infeksi, misal, batuk pilek karena alergi maka obat antibiotik tak perlu digunakan karena tak ada pengaruhnya. “Lagipula, kan, kasihan anak jadi minum obat yang tak perlu,” terang Kishore.

* Obat Antibiotik

Obat-obatan antibiotik jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang. Dalam hal efek samping, obat antibiotik jaman dulu, misalnya, tetracyclin bisa menyebabkan gigi kuning. Ada juga obat seperti sulfan yang menyebabkan anemia. Sedangkan obat-obat antibiotik yang sekarang hampir tak punya efek samping, Mungkin ada yang bisa mengakibatkan diare. “Hal ini karena ada flora dalam usus yang terganggu. Sebetulnya dalam usus itu, kan, ada kuman yang baik dan ada juga kuman penyakit (patogen). Nah dengan pemberian antibiotik tersebut kuman yang baik pun ikut mati,” terang Kishore.

Lamanya penggunaan obat antibiotik tergantung derajat penyakitnya. Biasanya dokter sudah menentukan dosisnya dan juga harus dihabiskan sesuai aturannya. Kalau tidak maka kumannya akan menjadi resisten.

* Obat Penurun Panas dan Penghilang Rasa Nyeri

Seringkali kalau diperhatikan bila anak sakit, ibu biasanya langsung memberikan obat penurun panas. Bisa saja yang terjadi, sedikit-sedikit tapi sering. Pada jenis obat-obat penurun panas dan penghilang nyeri harus diberikan tergantung klinisnya dan juga sesuai anjuran dokter kapan harus diberikan dan kapan tidak diberikan. Karena obat-obat ini justru mempunyai efek samping, terutama mengganggu fungsi hati.

* Obat Alergi

Untuk obat-obat anti alergi dengan penggunaan jangka waktu lama dianjurkan obat dengan derivat atau golongan baru yaitu antihistamin. Hampir bisa dikatakan antihistamin tak ada efek samping dibandingkan golongan obat sebelumnya yang berefek samping jadi mengantuk.

“Juga jangan diberikan steroid karena bisa mengakibatkan gangguan tumbuh kembang pada anak.” Sebab, steroid sudah diproduksi sendiri dalam tubuh. Kalau diberikan steroid lagi dalam jangka lama maka produksi steroid di dalam tubuh akan tersupresi dan akibatnya mengganggu pertumbuhan anak. Untuk pemberian jangka pendek boleh dilakukan asal ada indikasi. Misalnya, anak gatal hebat atau mendapat serangan asma hebat. Pemberiannya bisa 3-5 hari atau mungkin seminggu dan setelah itu selesai. “Karena itu pada kemasan obat anti alergi yang mengandung steroid biasanya dicantumkan batas lama pemberiannya.”

* Obat Anti Jamur

Memang tidak banyak penyakit karena gangguan jamur. Efek samping penggunaan obatnyapun tergantung jenis penyakitnya. Tapi biasanya penggunaan obat ini dalam jangka pendek hanya 5 hari sampai 3 minggu. Sehingga efek sampingnya pun bisa dikatakan tidak ada.

* Obat Pencahar

Pada beberapa anak mungkin ada yang mengalami sulit buang air besar, sehingga setiap kali harus dibantu dengan obat. Ada obat minum dan ada juga yang lewat anus. Sebetulnya tak berpengaruh apa-apa, kok, bagi tubuh. Obat tersebut tak diserap oleh tubuh. Yang lewat anus malah lebih aman, karena hanya memperlunak daerah di sekitar anus saja. Lagipula sebetulnya obat ini tak dibutuhkan setiap hari, kan? Toh, kalau buang airnya normal maka pemberiannya pun dihentikan.

Persoalannya bila anak sulit buang air besar terus menerus atau dalam jangka lama, maka yang harus dilakukan, tegas Kishore, mencari penyebabnya. “Bukan dengan penggunaan obat pencahar terus menerus. Apakah penyebabnya itu karena diet makanan yang tak seimbang ataukah ada penyakit lain yang berpengaruh pada kesulitan buang air besarnya,” kata Kishore.

KIAT MEMBUAT ANAK SEHAT

Agar anak tak selalu minum obat, maka anak harus sehat dan tak sering sakit. Untuk itu, saran Kishore, yang bisa dilakukan orang tua antara lain:

1. Ikutilah pola imunisasi dengan baik dan teratur. Kendati mahal dan memiliki efek samping, pemberian imunisasi jauh lebih bermanfaat dibandingkan bila nanti anak sakit lebih parah. Seperti diketahui penyebab penyakit terbanyak di Indonesia adalah infeksi seperti difteri, tetanus, pertusis, meningitis atau radang selaput otak, campak, dan lain-lain. Bila anak sudah mendapat imunisasi, minimal penyakit berat ini tak ada. Kalaupun toh terkena hanya ringan dan dapat diberikan obat-obatan ringan.

2. Kalau ada orang atau keluarga yang sakit sebaiknya tidak dekat-dekat dengan bayi atau anak. Agar ia tak tertular sakit.

3. Untuk memperbaiki daya tahan tubuh anak maka berilah diet yang sesuai dengan usianya sehingga daya tahan tubuhnya baik.

4. Pemberian obat dalam jangka panjang bagi anak penderita penyakit tertentu harus benar, teratur dan disiplin. Kalau tidak maka kuman bisa resisten dan sakitnya bertambah parah.
Dedeh Kurniasih/nakita

Kecil-Kecil Sudah “Memperbudak” Orangtua

Tentu ia tak bermaksud begitu jika “perintah-perintah”nya datang bertubi-tubi. Bisa jadi ia cuma ingin cari perhatian. Yang jelas, ia takut kehilangan ayah/ibu sebagai figur yang selalu siap membantu dan mengerti dirinya.

Baru saja minta dibikinkan susu, si kecil minta diambilkan air. Belum lagi susunya habis diminum, eh, dia sudah minta dibuatkan mi. Selesai? Belum! Masih ada sederet lagi permintaan lain. Sudah begitu, kalau maunya lagi sama ayah, tak ada seorang pun yang boleh menggantikan, termasuk ibu. Kalau digantikan, ngambeklah ia. Apa boleh buat, si ayah harus bolak-balik memenuhi permintaan sang buah hati. Kendati dalam hati kesalnya bukan main. Hingga akhirnya, orang tua pun meledak kala kekesalan sampai di ubun-ubun lantaran merasa seperti diperbudak. Terlebih jika semua permintaan itu diajukan kala orang tua dalam keadaan letih sepulang kerja atau di tengah malam selagi tidur pulas.

Perilaku si kecil yang demikian, menurut Zahrazari Lukita, S.Psi., disebabkan anak usia batita memang tengah gencar “menguji” otorita. Pasalnya, mereka mulai tahu dirinya pun memiliki kekuatan atau pengaruh, sama sepeti orang lain. Nah, dalam kaitan perilaku si kecil yang suka “memperbudak” ini, “ia menganggap dirinya lebih otorita dibanding orang lain, termasuk orang tuanya,” jelas Aya, sapaan akrab pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini.

Di sisi lain, anak usia ini juga tengah berada dalam masa peralihan, dari dependen (tergantung) ke independen (mandiri); ia harus dapat melakukan sesuatu yang bisa ditanganinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian, dalam dirinya mulai muncul rasa takut kehilangan sosok yang selalu mendampingi dan menolongnya, entah orang tua ataupun pengasuh. Jadi, di satu sisi ia merasa mampu mandiri, tapi di sisi lain ia takut kehilangan ketergantungannya.

CARI PERHATIAN

Jika saat berperilaku demikian si kecil hanya ingin dilayani ayah atau ibunya saja, menurut Aya, lantaran si kecil menganggap orang yang ia kehendaki adalah orang tuanya bisa memenuhi apa yang ia mau.

Namun bisa juga lantaran ia ingin mendapat perhatian lebih dari ayah/ibu. “Mungkin ia jarang bertemu ayah, misal, hingga ngotot harus ayah yang melakukan semuanya.” Jadi, permintaannya yang berentet bak petasan itu cuma alasan agar ia bisa berinteraksi atau kangen-kangenan dengan si ayah.

Sebaliknya, jika kedekatan emosi si anak dengan ayah/ibu sangat kuat, perilaku tersebut juga bisa muncul. Penyebabnya, tak lain merupakan upaya anak untuk menjaga kedekatan dan ketergantungannya dengan si ayah/ibu. Hal yang sama juga akan dialami pengasuh, bila ikatan emosional si anak dengan pengasuhnya terbilang kuat.

Tak tertutup kemungkinan, perilaku “memperbudak” ini disebabkan si kecil lagi tak sehat. Sementara untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya ia rasakan, kemampuannya masih terbatas.

Jadi, kita jangan buru-buru kesal, ya, Bu-Pak, apalagi sampai merasa diperbudak si kecil. Justru kita mesti jeli mengamati kenapa ia berperilaku demikian.

SULIT BERADAPTASI

Namun, apa pun penyebabnya, tegas Aya, perilaku tersebut tak boleh dibiarkan karena bisa berlanjut sampai ke usia berikutnya. “Bisa-bisa ia main perintah kepada siapa saja.” Tak hanya itu, perilakunya ini pun bisa menetap atau menjadi bagian dari pola kepribadiannya. “Bukan tak mungkin saat dewasa ia merasa ‘paling aku’ dari orang lain.” Lebih celaka bila ia kemudian menjadi pribadi omnipoten alias tak bisa menerima adanya kendali dari luar dalam bermasyarakat.

Dampaknya, “ia sulit beradaptasi dengan situasi dimana ia dikelilingi figur otoritas.” Di sekolah atau di tempat kerja kelak, misal, ia akan selalu mentok karena di tempat-tempat tersebut ia tak bisa berbuat seenaknya seperti di rumah. Tentu pola hidup semacam ini akan sangat membebani bahkan menyiksa anak, hingga menimbulkan kontradiksi dalam dirinya. “Di satu sisi ia harus mematuhi apa yang dikatakan guru atau atasannya, di sisi lain ia ingin tetap menonjolkan otoritanya meskipun mustahil.” Nah, ini akan menyulitkannya menyesuaikan diri.

Jadi, Bu-Pak, si kecil harus segera diluruskan. Ia harus belajar menerima otorita dari luar dirinya. Semakin dini pembelajarannya semakin bagus karena di usia ini anak masih dalam tahap pembentukan, hingga ia pun lebih mudah diarahkan ketimbang anak usia remaja. Selain, ia akan masuk usia prasekolah yang berarti lingkungan sosialnya pun makin berkembang semisal “sekolah”.

BERI PEGERTIAN

Adapun caranya, diberi penjelasan mengenai kondisi faktualnya. Misal, “Bunda mau saja membuatkan mi untuk Adek, tapi sekarang, kan, Adek lagi minum susu. Jadi, habiskan dulu susunya.” Dengan begitu, ia sekaligus belajar bahwa kalau makan harus dihabiskan.

Jika usai minum susu, ia kembali minta dibuatkan mi, katakan, “Adek yakin masih mau makan lagi? Kan, baru saja minum susu segelas. Apa belum kenyang?” Bila ia ngotot, kita perlu bersikap tegas tapi bukan marah, misal, “Tidak, Sayang. Nanti perut Adek enggak muat. Lagian, kalau Adek kekenyangan, Adek bisa sakit perut. Jadi, tunggu dulu sampai Adek benar-benar merasa lapar, ya.” Kemudian langsung alihkan perhatiannya dengan mengajaknya melakukan aktivitas yang ia sukai.

Bila kita tak mungkin melayani permintaannya yang tiada henti itu lantaran tengah sibuk, si kecil pun harus diberi pengertian. Misal, “Sayang, sekarang Ayah sedang bekerja. Nih, lihat, Ayah lagi mengetik. Toh, tadi Ayah sudah buatkan susu untuk Adek dan mengambilkan minum. Kalau Adek mau kue, kan, masih ada Ibu atau si Mbak yang bisa dimintai tolong. Kalau Adek enggak terus-terusan ganggu Ayah, pekerjaan Ayah bisa cepat selesai, lo. Nanti kita bisa baca buku sama-sama, ya.” Tentu saja, setelah pekerjaan kita usai, janji itu harus ditepati. Kalau tidak, sama saja kita mulai menanam bibit ketidakpercayaan dalam diri anak terhadap kita.

Selanjutnya, kita bisa minta bantuan pasangan atau pengasuh untuk membujuk atau mengalihkan perhatiannya. Buat anak usia batita, cara mengalihkan perhatian cukup jitu, lo. Dalam sekejap, ia sudah lupa dengan keinginannya tadi.

AJARKAN SIKAP SANTUN

Hal lain yang perlu diperhatikan, pada usia awal batita, yaitu 1-2 tahun, si kecil tengah belajar mengekspresikan keinginannya atau kebutuhannya dengan cara yang benar. Hanya, lantaran kemampuannya berbahasa belum lancar, hingga kala ia menginginkan sesuatu atau butuh sesuatu, ngomongnya seperti memerintah. Misal, “Ma, bikin susu.” Atau “Ayah, bacain buku.” dan lainnya.

Untuk itu, si kecil perlu diajarkan bersikap santun. Kita bisa bilang, misal “Adek, kalau minta dibikinin susu, ngomongnya yang manis, dong. Nih, Bunda kasih tahu, ngomongnya begini, ‘Bunda, tolong bikinin susu, dong.’ Nah, sekarang coba Adek ulangi.” Dengan cara ini, kita sekaligus mengajarinya bicara hingga kosa katanya pun bertambah.

Selain itu, kita pun harus mengajarinya untuk melakukan tugas-tugas sederhana yang berkaitan dengan kebutuhannya sendiri, seperti mengambil dan meletakkan sepatu di tempatnya, mengembalikan mainannya ke tempat semula, makan sendiri, dan lainnya.

Bila kita sudah mengajarkan semua itu dan si kecil pun sudah bisa melakukan tugas-tugas sederhana tersebut, tapi ia masih juga kerap menyuruh-nyuruh, terutama di usia 3 tahun, Aya menganjurkan kita agar introspeksi diri. “Bisa jadi perilakunya itu disebabkan meniru orang tuanya. Jangan lupa, anak usia ini sedang dalam tahap modelling atau meniru.”

Jadi, kalau kita terbiasa main perintah sama pembantu, misal, ya, enggak heran bila si kecil pun akhirnya jadi suka memerintah. Paling tidak, tutur Aya, di benak anak akan terpersepsi, “Oh, begitu, ya, kalau ingin sesuatu, tinggal main perintah saja.”

Dalam bahasa lain, kita perlu hati-hati menjaga mulut (juga perilaku) bila tak ingin si kecil meniru yang buruk. Terlebih, pengaruh lingkungan rumah masih sangat kuat buat batita, mengingat kehidupan mereka lebih banyak dihabiskan di rumah.

Namun dalam memberikan contoh yang baik harus dilakukan konsisten, lo. Jangan hanya saat dilihat anak baru kita melakukannya. Soalnya, jika suatu waktu secara tak sadar kita minta bantuan dengan cara kasar kepada pembantu, misal, dan saat itu ada si kecil, akan berdampak juga pada si kecil.

Bagaimana, Bu-Pak? Jadi lebih paham, kan?

Julie/Gazali Solahuddin/nakita

Hati-Hati Di Jalan, Ya, Ma

I tu tandanya ia tak mau pisah dari kita. Namun jika pesannya disertai embel-embel minta oleh-oleh, ia tengah menguji rasa sayang kita padanya. Tanggapi dengan positif. Ini merupakan bekal rasa percaya dirinya.

Anak batita, kata Fitriani F. Syahrul, Psi., memang lagi rajin-rajinnya mengucapkan pesan-pesan selamat jalan. Bukan cuma pada ayah-ibunya, juga orang lain yang dekat dengannya. Perilaku ini, terangnya, merupakan hasil modelling atau peniruan, baik dari orang tua maupun anggota keluarga lain yang kerap melakukannya. Misal, kala ayah hendak ke kantor, si ibu bilang, “Hati-hati di jalan, ya, Pa. Jangan lupa pulangnya bawakan kue buat anak-anak.”

Namun di balik peniruan itu sebenarnya terselip rasa cemas akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya. Soalnya, terang Fitriani, “anak usia ini masih sangat membutuhkan rasa aman dan rasa aman itu diperolehnya dari orang yang dekat dengannya atau orang tua.” Jadi, pesan-pesan selamat jalan yang ia sampaikan sebenarnya merupakan ungkapan perasaan anak agar kita selalu ingat kepadanya, bahwa ia selalu ingin dekat dengan kita.

BERI TANGGAPAN POSITIF

Itulah mengapa, Fitriani menekankan agar kita menanggapinya dengan positif. Misal, “Terima kasih, ya, Nak. Pasti Mama akan hati-hati dan akan pulang lagi nanti sore,” atau, “Papa perginya enggak lama, kok. Nanti sore juga pulang. Adek baik-baik di rumah, ya.” Kemudian, kita bisa beri ia pelukan atau ciuman.

Tentunya kita pun harus memberi penjelasan pada si kecil kenapa kita harus meninggalkannya. Misal, “Ibu sekarang mau ke kantor dulu. Kan, Ibu harus kerja supaya bisa beli mainan buat Adek.” Dengan begitu, ia jadi merasa lebih tenteram karena ia tahu kita pergi bukan untuk meninggalkannya, melainkan harus bekerja; ia merasa disayangi.

Sebaliknya, bila kita cuma mengucapkan, “Ya,” sambil berlalu atau malah diam saja dan langsung pergi, “anak jadi bingung dan akan selalu bertanya-tanya dalam hatinya, ‘Sebenarnya Mama sayang enggak, sih, sama aku?’ Anak-anak, kan, masih simpel pemikirannya. Yang ia tahu hanya sayang atau tidak sayang.”

Lagi pula, Bu-Pak, dengan kita berespon positif, si kecil bisa menjalani harinya dengan baik karena tak ada lagi yang perlu ia cemaskan. “Anak-anak itu, kan, kalau waktu pagi mood-nya sudah jelek, maka sepanjang hari itu akan jelek terus. Tapi jika awalnya sudah baik, selanjutnya ia akan melewati hari itu dengan riang gembira.”

Namun yang lebih penting dari itu, tambah Fitriani, tanggapan positif dari kita sebetulnya merupakan cikal bakal terbentuknya rasa percaya diri anak. Bukankah salah satu unsur dominan dari percaya diri adalah rasa aman?

Manfaat lain, secara tak sadar kita juga tengah mengasah kemampuan berbicara si kecil. Bukankah si kecil akan balik memberi respon pula? Misal, kala kita berkata, “Terima kasih, ya, Bunda sudah diingatkan. Bunda sayang sama Adek.” Si kecil pun akan membalas, “Iya, Adek juga sayang Bunda.”

MENGUJI RASA SAYANG

Begitupun jika si kecil minta oleh-oleh, kita harus menanggapinya dengan positif pula semisal, “Iya, deh, nanti bawakan cokelat.” Menurut Fitriani, enggak ada salahnya, kok, bila kita sesekali membawakan oleh-oleh yang diminta si kecil.

Soalnya, terang psikolog pada Yayasan Lentera Zaman ini, anak yang kerap mengucapkan pesan selamat jalan sambil minta oleh-oleh, bisa jadi tengah menguji rasa sayang orang tuanya. “Biasanya anak, kan, akan merasa disayang bila kita memberikan apa yang ia minta. Sebaliknya, kalau tak diberi, pasti ia akan merasa tak disayang lagi.”

Namun, jika barang atau sesuatu yang kita janjikan itu ternyata tak terjangkau oleh keuangan kita, “ya, jangan memaksakan diri, dong.” Maksudnya, kita tetap membelikan barang serupa tapi dengan harga lebih murah. Jangan kita malah tak membelinya sama sekali. Ingat, kita sudah janji pada si kecil dan janji harus ditepati.

Lain hal jika oleh suatu sebab kita lupa akan terjanji tersebut, kita harus segera minta maaf begitu tiba di rumah. Katakan, misal, “Nak, maaf, ya, tadi Ayah sibuk sekali sampai lupa akan janji Ayah untuk membawakan cokelat buat Adek.” Kalau tidak, si kecil bisa sakit hati, lo. Yang lebih parah, ia tak percaya lagi pada kita. Apalagi jika sampai terjadi berulang kali, “akhirnya ia takkan percaya lagi pada lingkungan sekitarnya.” Celaka, kan?

BUAT JADWAL

Bukan berarti kita harus selalu memenuhi permintaan oleh-oleh si kecil, lo. Terlebih bila keuangan kita memang tak memungkinkan untuk kita melakukannya. Si kecil harus dikasih pengertian, “Nak, sekarang Bunda lagi enggak punya uang. Jadi, Bunda enggak bisa beliin mobil-mobilan yang Adek minta. Nanti, deh, kalau Bunda sudah punya uang, kita sama-sama pergi membelinya, ya.”

Justru kalau selalu dituruti, dampaknya buruk buat si kecil. “Ia jadi tergantung dalam arti ia akan menganggap kita sayang dan peduli kepadanya jika membawakan apa yang ia minta,” terang Fitriani.

Selain itu, si kecil pun jadi manja dan tak pernah belajar menunda keinginan. Akhirnya nanti ia tak dapat menerima jika tak bisa memperoleh apa yang ia inginkan. “Ia akan marah atau sakit hati hanya gara-gara keinginannya tak dapat terwujud.” Dalam bahasa lain, ia tak bisa menerima kenyataan. Hati-hati, lo, ini bisa terbawa sampai dewasa.

Jadi, Bu-Pak, sekalipun kita mampu memberikan apa yang ia minta, tapi kita tetap harus melatihnya untuk belajar bahwa tak semua keinginannya harus selalu dipenuhi. Caranya, beri pengertian. Misal, “Nak, bukan berarti Bunda enggak sayang sama Adek kalau Bunda enggak bawakan oleh-oleh. Kan, kemarin, Bunda sudah bawakan mobil-mobilan yang Adek pesan. Sekarang cium saja, ya.”

Cara lain, jadwalkan waktu pemberian oleh-oleh. Misal, seminggu sekali. Tapi itu pun harus dilakukan secara random, lo. Misal, minggu ini ia diberi oleh-oleh pada hari Sabtu, minggu depannya Rabu, minggu depannya lagi Jumat, dan seterusnya. Soalnya, kalau enggak di-random, jelas Fitriani, lama-lama si kecil akan tahu bahwa ia pasti akan dibelikan atau dikasih oleh-oleh pada hari Sabtu, misal. Akibatnya, ketika tiba hari Sabtu, ia langsung menuntut minta dibawakan oleh-oleh. Celaka, kan?

TETAP DIPELIHARA

Jika pada suatu hari si kecil tak lagi mengucapkan pesan-pesan selamat jalan, jangan kaget atau bingung, ya, Bu-Pak. Hal ini wajar saja. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, gradasinya memang akan menurun. Soalnya, terang Fitriani, si kecil lama-kelamaan akan mengerti bahwa ayah-ibunya pergi tiap pagi untuk bekerja, bukan ingin meninggalkannya.

Disamping, “anak mulai punya kebutuhan lain seperti belajar dan bermain.” Hal ini disebabkan, secara psikologis, anak telah memiliki bekal rasa aman atau rasa aman itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Hingga, tak ada lagi rasa cemas akan perpisahan dan perkembangannya pun berjalan wajar.

Namun begitu, ingat Fitriani, pesan selamat jalan harus tetap dipelihara. “Kalau sampai hilang sama sekali, ya, enggak baik juga, dong. Misal, saat kita mau berangkat ke kantor, anak cuek saja.” Jadi, kita tetap perlu membiasakan si kecil untuk mengucapkan pesan selamat jalan. Tentu kita pun harus melakukannya juga. Bukankah orang tua adalah contoh buat anak?
JANGAN HINDARI SI KECIL

Banyak, lo, orang tua yang malah menghindari anaknya kala hendak meninggalkan rumah. Alasannya, takut si kecil menangis. Hingga, kala harus pergi ke kantor, misal, dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jangan sampai anaknya melihat. Padahal, cara ini sungguh keliru. “Perlakuan orang tua yang demikian hanya akan membuat anak tak percaya lagi dengan lingkungannya,” jelas Fitriani.

Awalnya, si kecil masih percaya ketika kita bilang mau ke kamar mandi, misal. Namun lama-lama si kecil pun akan sadar, “Kok, ke kamar mandinya lama sekali, ya?” Nah, setelah itu ia pasti akan mencari-cari hingga ia pun jadi meragukan dirinya sendiri, “Apa benar yang aku dengar tadi kalau Ibu mau ke kamar mandi?” Akhirnya, ia pun sadar kalau dibohongi.

Jadi, Bu-Pak, meski pesan selamat jalan yang diberikan si kecil berupa tangisan, kita tetap tak boleh menghindarinya. Justru kita harus memberinya pengertian, misal, “Adek jangan nangis gitu, dong. Kan, Bunda cuma mau pergi ke kantor. Nanti sore juga Bunda pulang lagi, kok.”

Julie/Gazali Solahuddin/nakita

Jangan Paksa Si Kecil Mengaku Salah

Rohedi/nakita

I nilah yang bikin anak jadi pintar melempar kesalahannya ke orang lain. Selain, ia pun takut dihukum kalau mengaku salah.

Saya kaget ketika mendengar suara piring pecah dari arah dapur. Di sana saya lihat Echa, putri sulung kami yang berusia 4 tahun, sedang berdiri di antara pecahan piring itu. Tapi bukannya mengaku salah, eh, malah menyalahkan si Mbak. Katanya, ‘Bukan Echa yang salah, kok, Bu. Si Mbak, tuh, naro piring, kok, di pinggir meja.’ Duh, mau jadi apa kelak anak saya,” keluh Ny. Eni dengan wajah muram.

Lempar batu sembunyi tangan alias menimpakan kesalahan pada orang lain, memang bisa saja terjadi pada anak usia ini. Sekalipun kita selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran kepadanya. Hingga, rasanya kita tak percaya dan sedih melihat si kecil bisa melakukan perbuatan manipulatif seperti itu. Akibatnya, kita pun was-was bila perilaku itu akan menetap dalam diri anak.

TAKUT DIHUKUM

Sebenarnya, kita tak perlu kaget apalagi sampai cemas berlebihan. Soalnya, sebagaimana dijelaskan E.P. Triambarwangi, S.Psi., anak usia prasekolah masih dalam tahap prekonseptual. “Di tahap ini, perkembangan bahasanya terbatas, hingga ia belum bisa menangkap hubungan sebab-akibat. Nalarnya pun belum berjalan sempurna, hingga kemampuannya menganalisa juga sangat terbatas, termasuk menganalisa tentang baik dan buruk.”

Jadi, bila ia melimpahkan kesalahan pada orang lain, memang karena kematangan kognitifnya belum memadai, ya, Bu-Pak. “Ia belum bisa menganalisa dengan baik atau melihat suatu permasalahan secara menyeluruh. Yang bisa ia lihat hanya dari sisi aku saja karena sikap egosentrisnya masih sangat tinggi,” lanjut psikolog yang akrab disapa Pipit ini.

Namun begitu, tak tetutup kemungkinan perbuatan manipulatifnya lantaran ia belajar dari orang lain. Bukankah belajar yang paling gampang dengan meniru? “Kalau ia melihat orang terdekatnya, entah ayah, ibu, kakak, atau pengasuhnya, suka bersikap memanipulatif, tentu ia akan melakukan hal yang sama.” Bukankah bagi anak usia ini, apa yang dilihatnya itu adalah yang benar?

Hal lain yang tak boleh dilupakan, anak belajar dari pengalaman. “Jika di rumahnya berlaku norma, siapa saja yang salah patut dihukum padahal hukuman itu tak disukainya, maka cara mengelaknya, ya, dengan manipulatif tadi.” Jadi, orientasinya agar terhindar dari hukuman dan ini wajar saja.

KERAP DIPOJOKKAN

Selain yang sudah disebutkan di atas, tindakan manipulatif yang dilakukan si kecil juga bisa disebabkan “ulah” orang tua yang tak menghargai diri anak. “Seringkali orang tua lupa dengan selalu menyudutkan anak, mencari-cari kesalahan anak, dan anak tak pernah diberi kesempatan untuk mencoba segala hal,” jelas Dr. Seto Mulyadi yang ditemui pada kesempatan berbeda. Ingat, tambahnya, anak pun manusia biasa yang pada dasarnya ingin dihargai. Bukankah dihargai merupakan kebutuhan semua orang?

Nah, karena kerap merasa tidak dihargai atau dipojokkan inilah, maka salah satu mekanisme pertahanan dirinya adalah mencari kambing hitam atau memanipulasi keadaan yang sebenarnya. “Dalam pikirannya, yang penting asal egonya tak terserang atau dapat terlindungi secara aman. Karena, mana ada, sih, orang yang terus-menerus mau dicap sebagai orang yang salah, orang yang gagal? Jadi, untuk melindungi dirinya itulah ia membela egonya dengan mekanisme pertahanan tadi.”

Itulah mengapa, psikolog yang kerap disapa dengan sebutan Kak Seto ini, minta agar orang tua mengerti perasaan anak. “Sadari bahwa tindakan manipulatif anak disebabkan tekanan-tekanan karena ketakutannya.” Hanya dengan cara mengerti perasaan anaklah, menurutnya, akan tumbuh rasa aman secara psikologi.

Dengan demikian, perbuatan manipulatif yang dilakukan si kecil di usia ini bukan dalam pengertian sebagaimana yang dilakukan orang dewasa. Ingat, anak balita masih dalam tahap proses belajar mengerti hal-hal baik dan buruk. Hingga, kemampuannya berbohong pun masih sangat terbatas.

SIKAP ORANG TUA

Baik Pipit maupun Kak Seto sama-sama menganjurkan agar orang tua introspeksi diri. “Sebelum mengubah anak, orang tua harus mengubah diri sendiri dulu,” kata Kak Seto. Jadi, kita harus mengubah semua aktivitas kita yang cenderung memojokkan si kecil, ya, Bu-Pak. “Dengan begitu, anak akhirnya akan betul-betul merasa aman, hingga ia pun berani untuk jujur. Bukankah kejujuran itu sangat dihargai oleh orang tuanya?”

Begitu pun bila ternyata kitalah yang menjadi sumber peniruan anak, “orang tua harus segera memperbaikinya,” ujar Pipit. Misal, kalau kita salah, kita mengakuinya dan meminta maaf. Pun seandainya harus minta maaf pada anak. “Dengan demikian, anak belajar, ‘Oh, kalau aku salah enggak perlu aku tutup-tutupi. Aku tinggal minta maaf. Ibu juga kalau salah sama aku minta maaf, kok.’.” Tentu anak pun harus tahu, setelah ibu minta maaf, ibu tak pernah mengulangi kesalahannya lagi. “Jangan malah melakukan kesalahan yang sama dan minta maaf lagi. Kalau seperti itu, yang akan dingat anak adalah ternyata minta maaf itu enggak ada artinya.”

Dalam memberi hukuman, kita juga harus koreksi, “sudahkah pemberian hukuman yang kita lakukan itu proporsional? Kalau gara-gara ia memecahkan piring lantas dihukum dengan berdiam seharian penuh di gudang, itu sama sekali enggak proporsional. Bukankah tujuan kita menghukum anak agar perbuatan yang dilakukannya tak terulang lagi?” Hukuman yang tak proporsional, terang Pipit, membuat pesan kita tak sampai ke anak dan anak pun akan bertanya-tanya, “Apa salahku? Begitu saja, kok, dihukum berat begini.” Nah, yang ia ingat bukan kesalahannya dalam memecahkan piring, melainkan harus masuk ke gudangnya.

Akan berbeda hasilnya bila kita mengajak si kecil untuk duduk bersama dan mengajaknya bicara. Misal, “Jadi, Kakak enggak salah, ya? Yang salah si Mbak, karena taruh piringnya terlalu ke pinggir. Lo, kalau main bola di dapur itu apa enggak salah? Bagaimana kalau saat main bola, lalu bolanya melenting ke piring dan membuat piringnya jatuh?” Dengan cara ini, si kecil akhirnya sadar dan melihat permasalahan secara lebih luas.

Namun kita juga harus menunjukkan hal yang benarnya, lo. Misal, “Kalau Kakak main bola di dalam rumah, nanti akan kena perabotan. Jadi, lebih baik mainnya di halaman saja. Namun kalau bolanya hanya sekadar dipegang-pegang atau digelinding-gelindingkan di karpet yang engga ada TV-nya maupun perabotan lain, itu baru boleh.” Dengan demikian, anak sekaligus diajarkan untuk memandang permasalahan bukan dari sudut akunya saja, tapi juga dari sudut orang lain.

Selain itu, dengan mengajaknya bicara, kita pun bisa berdialog secara efektif. Hingga, anak akan merasa dihargai, diberi kesempatan untuk bicara, boleh mengutarakan semuanya. Sekaligus kita juga mendapat masukan banyak tentang diri anak. Kita jadi bisa mengerti perasaan-perasaan si kecil.

Itu sebab, Pipit dan Kak Seto menganjurkan, orang tua sebaiknya terus berusaha memahami anak. Terlebih karena kemampuan kognitif si kecil masih terbatas, ya, Bu-Pak.

Hal lain yang penting diperhatikan, anak berhak untuk salah. Karena melalui kesalahan, ia akan belajar lebih efektif. Sebaliknya, “anak yang tak pernah diberi hak untuk salah tak akan menjadikan kesalahan itu sebagai guru, tapi sebagai sumber bencana yang harus ditutup-tutupi.”

Nah, sekarang sudah enggak marah dan khawatir lagi, kan, Bu-Pak?

Indah/Achmad Suhendi/nakita

Perkembangan Motorik Bayi Usia 6-12 Bulan

A mati dengan cermat agar tahu persis, kapan harus khawatir dan kapan perlu menstimulasi anak secara intens.

Setiap tahap perkembangan, baik motorik kasar maupun halus, jelas dr. Rini Sekartini, SpA, punya kurun waktu tertentu. Meski tidak bersamaan waktu munculnya, bisa saja saling tumpang tindih (overlapping) , berdekatan, dan berkelanjutan. Contohnya, bayi usia 5-7 bulan harus sudah bisa duduk. “Namun di kurun waktu yang sama atau paling berselisih hanya sebulan, dia juga sudah bisa menunjukkan perkembangan berdiri,” kata dokter anak dari Subbagian Anak FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Yang harus diwaspadai adalah bila dalam kurun waktu itu tonggak-tonggak perkembangan belum juga muncul. Di kotak bawah ini, berikut perkembangan motorik kasar dan halus bayi usia 6­-12 bulan:

Motorik Kasar

* DUDUK TANPA PEGANGAN (5 bulan 1 minggu – 7 bulan)

Di usia ini bayi sudah mulai bisa duduk tanpa pegangan.

* BERDIRI DENGAN PEGANGAN (6,5 bulan – 8 bulan 3 minggu)

Setelah bisa duduk sendiri, orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh anak di boks atau di lantai yang beralas. Kemudian letakkan kursi/meja kokoh sebagai pegangan. Sedangkan bila di boks kayu, biasanya anak akan mencoba berdiri sambil berpegangan pada tiang-tiang boks.

* BANGKIT UNTUK BERDIRI (7,5 bulan – 10 bulan)

Dari posisi duduk dan tangan memegang pegangan, bayi berusaha mencoba bangkit untuk berdiri. Sebaiknya meja/kursi sebagai tempat pegangan harus kokoh, hingga anak tidak mudah jatuh.

Selagi “dilepas” di lantai, sebaiknya jangan menggunakan kaos kaki karena licin dan bisa membuatnya terpeleset lalu jatuh. Tentu saja pengawasan orang tua sangatdiperlukan.

* BANGKIT LALU DUDUK (7 bulan 1 minggu – 10 bulan 1 minggu)

Semula bayi dalam posisi telungkup atau telentang. Kemudian ia akan bangkit, mencoba merangkak dan mengangkat lengannya agar bisa tegak. Ia juga mencoba mengangkat pantatnya, kemudian duduk. Orang tua bisa membantunya dengan menarik atau memegang kedua tangannya. Agar bayi terangsang melakukan kegiatan ini, sering-seringlah menaruhnya di tempat tidur atau kasur di lantai.

* BERDIRI 2 DETIK (9 bulan 1 minggu – 12 bulan)

Bayi betul-betul sudah bisa lepas dari pegangan, bahkan orang tua bisa menghitung dia berdiri dalam 2 detik. Setelah itu biasanya jatuh lagi karena keseimbangannya belum begitu baik. Namun jatuhnya tidak tergeletak dengan kepala terantuk ke lantai, melainkan dengan posisi terduduk. Karena itu, agar jatuhnya enak, sebaiknya lantai diberi alas.

* BERDIRI SENDIRI (10 bulan 1 minggu – 13 bulan 3 minggu)

Anak sudah tidak berpegangan lagi ketika berdiri. Kini ia sudah memiliki kestabilan, hingga tidak terjatuh.

* MEMBUNGKUK KEMUDIAN BERDIRI (11 bulan – 14 bulan)

Anak sudah bisa berdiri sekaligus dapat membungkuk menuju posisi jongkok, kemudian berdiri tegak lagi. Orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh mainan atau barang yang bisa menarik perhatiannya di lantai.

* BERJALAN DENGAN BAIK (11 bulan – 15 bulan)

Sebelum bisa berjalan, biasanya orang tua mulai menitahnya. Bisa dengan memegangi kedua tangannya atau kalau merasa khawatir bisa pegangi bagian ketiaknya. Lama waktu menitah tak ada batasan. Di usia belajar berjalan ini (sekitar 13 atau 14 bulan), anak masih takut-takut dan kadang jatuh.

Untuk menstimulasi anak agar mau belajar jalan, harus hati-hati. Jangan sampai anak trauma dan akhirnya malah takut berjalan. Kalau sampai terjatuh dan membuat anak merasa sakit sekali, umumnya membuat anak jadi trauma. Sebaiknya, saat anak sedang belajar jalan, orang tua harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Jangan sampai ada benda-benda kecil di lantai yang bisa terinjak dan membuatnya kesakitan atau malah terpeleset dan jatuh.

Selain itu, tidak dianjurkan menggunakan baby walker karena tidak melatih bayi melangkah atau mengangkat kakinya, hingga kemampuannya melangkah kurang terasah. Soalnya, baby walker hanyalah menggeser anak berpindah tempat dan bukan melangkah. Jauh lebih baik melatihnya dengan menitah anak.

Agar anak bisa cepat dilepas dari titah, harus ada dukungan dari orang tua. Usahakan ada dua orang yang menstimulasinya belajar jalan. Seorang memegangnya dan seorang lain berjaga di depannya dengan jarak yang disesuaikan. Artinya, bila anak baru mampu berjalan selangkah dua langkah, si penjaga ini berjarak selangkah dua langkah pula. Bila sudah mulai agak lancar, jarak tersebut bisa semakin dijauhkan. Dengan demikian anak memiliki rasa percaya diri. Ia tahu persis, kalaupun jatuh, ada orang yang berjaga di depannya dan siap melindunginya.

* BERJALAN MUNDUR (12 bulan 1 minggu – 16 bulan)

Setelah kemampuan jalannya membaik, dengan sendirinya anak akan mulai belajar mundur. Ini merupakan salah satu bentuk eksplorasinya. Kelak ia pun akan belajar berjalan ke samping kiri-kanan, memutar, lalu belajar berlari.

Motorik Halus

Banyak orang tua, kata Rini , yang kurang memperhatikan kemampuan motorik halus. Padahal, ini penting dan lebih bermakna karena mengarah pada intelegensia anak. Dari sinilah nantinya akan terlihat kemampuan anak menulis. “Anak yang selagi di playgroup atau TK belum bisa memegang pensil dengan benar, ternyata di usia sekolah kemampuan menulisnya kurang baik.” Berikut perkembangan motorik halus bayi usia 6-12 bulan:

* MENGAMBIL 2 KUBUS (5 bulan 3 minggu – 9 bulan 3 minggu)

Ukuran kubus biasanya sekitar 1 inci atau 2,5 cm, tidak terlalu besar juga tak kelewat kecil. Kalau terlalu kecil, sulit dipegang dan kelewat besar juga sulit diraih. Gunakan kubus dari bahan kayu yang cukup aman yakni sudut-sudutnya tidak lancip. Di usia ini bayi sudah mulai bisa mengambil satu per satu kubus dengan jemarinya.

* MEMEGANG DENGAN IBU JARI DAN TELUNJUK (7,5 bulan – 10,5 bulan)

Biasanya yang dijadikan parameter objeknya adalah kismis mengingat ukurannya yang relatif kecil sekaligus aman jika termakan oleh anak. Taruh kismis di hadapannya dan dia akan mengambilnya dengan cara menjimpitnya menggunakan jari-jemarinya.

* MEMBENTURKAN 2 KUBUS (6 bulan 3 minggu – 11 bulan)

Anak sudah bisa memegang kubus-kubus yang digunakan di tahap perkembangan sebelumnya. Dengan kedua tangannya, ia akan melakukan gerakan membentur-benturkan kedua kubus tersebut.

* MENARUH KUBUS DI BAWAH (10 bulan – 14 bulan)

Ketika memegang kubus, anak sudah bisa menggunakan dua atau tiga jari lainnya. Ia kemudian akan memasukkan kubus tersebut ke dalam wadah.

* CORAT-CORET (12 bulan – 16,5 bulan)

Meski belum bisa memegang alat tulis dengan benar, anak sudah bisa mencoret-coret. Untuk mengakomodir kemampuan tersebut, beri kertas dan pensil warna yang tak berujung lancip. Sebaiknya jangan pilih krayon atau spidol karena biasanya menempel/membekas di tangan. Belum lagi anak cenderung memasukkan segala sesuatu ke mulut (fase oral).

* MENGAMBIL & MENUNJUKKAN MANIK-MANIK (12,5 bulan – 19,5 bulan )

Orang tua bisa mengajarinya dengan menaruh kismis dalam botol. Lalu balikkan botol sehingga isinya tumpah. Ambil kismisnya dan tunjukkan padanya. Minta anak melakukan hal sama.

Leher maupun mulut botol sebaiknya tidak terlalu lebar ataupun terlalu kecil. Kalau terlalu lebar anak cenderung akan mengambil kismisnya dengan memasukkan seluruh tangannya dan bukan cuma jarinya. Sedangkan kalau terlalu kecil, kismis akan susah keluar dari botol.

Dedeh

Agar Si Kecil Mau Belajar Berjalan

S ejumlah kiat berikut ini boleh dicoba, dari pakai baby walker sampai “disabet” dengan belut.

Menurut teori perkembangan anak, usia rata-rata mulai berjalan sekitar 10-14 bulan. Namun tak sedikit bayi di rentang usia tersebut belum mulai berjalan, hingga orang tua pun cemas. Terlebih kala di ulang tahun pertamanya, si kecil belum juga menunjukkan tanda-tanda bisa berjalan, orang tua langsung panik. Itu sebab, orang tua berupaya dengan segala cara agar bayinya mau belajar berjalan. Nah, berikut ini sejumlah kiat yang bisa ditiru agar si kecil mau belajar berjalan, dipaparkan oleh Dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH dari RS Pondok Indah, Jakarta.

* Upacara Tedak Sinten

Masyarakat Jawa amat akrab dengan budaya ini. Biasanya dilakukan kala bayi berusia 7,5 hingga 8 bulan. Dulu, upacara ini dimaksudkan untuk mensyukuri karunia Tuhan dalam bentuk biological/physical development. Jadi, secara tak langsung budaya tedak sinten membantu menyebarluaskan ilmu perkembangan anak manusia dengan cara kultural. Orang-orang dulu, kan, enggak membicarakan ilmu. Bila ditanya kenapa, kok, diadakan tedak sinten, mungkin jawabannya karena kaki bayi memang sudah “dipanggil” oleh bumi atau ibu pertiwi. Dengan kata lain, mereka pintar tapi tak mengembangkan ilmu empirik seperti yang kita kembangkan sekarang. Semuanya diperoleh melalui pengalaman; ketika melihat bayi usia 7,5 bulan kakinya ngeplek-nglepek ke bawah, nah, mulailah mereka membuat upacara tedak siten. Dari sisi ilmiah, di usia 7,5 hingga 8 bulan, bayi sudah punya refleks menapak. Putik-putik saraf si kecil sudah merasakan pressure atau tekanan di tapak kakinya, hingga ia ingin merasakan sesuatu di tapak kakinya dan merasa enak ketika menapak. Ini semua timbul lantaran perkembangan otak sebagai manusia erect (mahluk yang berdiri). Tentunya pada mahluk yang tidak berdiri takkan timbul perasaan seperti ini. Dengan demikian, kala merasakan enak menapak, si kecil pun terdorong untuk melangkahkan kakinya. Nah, dari sinilah awal ia mau mulai belajar berjalan.

* Biarkan Kakinya Menapak di Rumput yang Berembun

Tak usah takut si kecil akan kedinginan jika pagi-pagi tapak kakinya sudah dijejakkan di atas rumput yang berembun. Justru embun di rumput dapat merangsang putik-putik saraf di tapak kakinya. Bukan cuma tangan, lo, di kaki pun ada indra peraba. Hanya, indra peraba di kaki tak berkembang, yang lebih berkembang pressure sensor atau sensor tekanannya. Itu sebab, para astronot yang bebas grativasi hingga melayang-layang di udara, akan merasa aneh dan gatal di kaki lantaran tak ada tekanan.

Seperti halnya upacara tedak sinten, menapaknya si kecil di atas rumput berembun juga membuatnya merasakan enak di tapak kakinya, hingga merangsangnya menggerakkan kakinya untuk melangkah.

* Baby Walker Mendorong Bayi Belajar Berjalan

Kendati penggunaan baby walker masih pro-kontra, tapi sebetulnya baby walker justru mendorong si kecil belajar berjalan, lo. Bukankah dengan duduk di baby walker, ia jadi “bisa” berjalan? Nah, inilah yang mendorongnya untuk menggerak-gerakkan kakinya agar bisa berjalan. Kita pun jadi tak lelah karena harus mentetah si kecil yang baru belajar berjalan.

Jadi, tak benar, ya, Bu-Pak, anggapan bahwa baby walker cuma membuat bayi jadi malas berjalan. Soalnya, jika si kecil sudah siap dan berani untuk berjalan, ia akan minta keluar dari baby walker-nya, kok. Nah, disinilah kita harus hati-hati. Biasanya karena si kecil ingin keluar, baby walker dapat terguling hingga si kecil pun terjungkal. Jadi, kalau sudah ada tanda-tanda si kecil tak betah lagi di baby walker-nya, lebih baik keluarkan saja ia dari baby walker-nya. Setelah fase ini biasanya baby walker akan berubah fungsi menjadi benda yang didorong-dorong oleh si kecil, tak ubahnya seperti mainan yang bisa didorong. Namun bila khawatir hal ini bisa membahayakan dirinya, toh, kini sudah tersedia mainan berbentuk mobil-mobilan yang dilengkapi dorongan. Rodanya pun bisa disetel hingga tak terlalu cepat bila si kecil mendorongnya. Alat ini memang dirancang untuk bayi yang sudah keluar dari baby walker, yaitu sekitar usia 8,5 hingga 9 bulan.

Baby walker boleh digunakan sejak bayi usia 6,5 bulan, tapi sadelnya harus disetel agar kaki si kecil menggantung. Soalnya, di usia ini, sebagai makluk erect, si kecil merasa ada kebebasan untuk bergerak dan berjalan, tapi ia belum punya kemampuan karena sebenarnya di usia ini ia baru bisa merangkak. Baru di usia 7,5 bulan, ia sudah siap untuk menapak hingga sadel bisa diturunkan. Selanjutnya, di usia 9 bulan biasanya si kecil tak mau lagi menggunakan baby walker karena sudah ingin berjalan sambil berpegangan pada suatu benda.

Yang penting diperhatikan, kala si kecil masih menggunakan baby walker, ia harus diawasi dengan ketat. Ingat, ia bisa terjungkal jika roda baby walker melaju kencang atau ia “berjalan” sambil tangannya melakukan hal-hal berbahaya semisal menarik taplak meja yang penuh benda atau malah memegang colokan listrik, dan lainnya. Di negara-negara maju seperti Amerika, baby walker diwajibkan menggunakan rem. Dengan begitu, kala kita ingin meninggalkan si kecil sebentar, ia tak bisa bergerak ke mana-mana. Sayang, di negeri kita masih banyak beredar baby walkertanpa rem. Jadi, jangan lengah mengawasi si kecil, ya, Bu-Pak.

* “Sabet” Kakinya Pakai Belut

Cara ini kerap dilakukan oleh orang tua yang anaknya belum juga bisa berjalan selewat usia bayi. Orang-orang tua jaman dulu percaya, cara ini mampu mendorong anak untuk mau berjalan. Tentu saja, kita boleh percaya, boleh juga tak percaya. Jadi, tak masalah bila kita pun ingin menerapkannya pada si kecil. Toh, secara biomedik juga tak membahayakan si kecil. Asal menyabetnya jangan keras-keras, ya, Bu-Pak. Sayang, kebiasaan ini tak bisa dijelaskan secara ilmiah. Tak beda dengan “acara” memasukkan bayi ke dalam kurungan ayam yang menjadi bagian upacara tedak sinten, juga tak ada penjelasan ilmiahnya. Namun secara kultural, “upacara” menyabet kaki anak pakai belut mampu menarik perhatian masyarakat hingga tahu bagaimana pentingnya fase berjalan ini.

SETELAH INSTING BERJALANNYA TIMBUL

Tentu kita harus terus mendorongnya agar si kecil makin termotivasi untuk belajar berjalan. Berikut saran dari Adi Tagor.

* Jangan senewen kala si kecil terjatuh. Jadi, tak perlu berteriak kaget apalagi sampai histeris. Pura-pura cuek aja, deh, tapi sambil tetap dilihat apakah lukanya berat atau tidak.

* Mainan yang didorong amat membantu si kecil terampil berjalan. Tak perlu mahal karena yang penting fungsinya. Kita pun bisa membuatnya sendiri dari kayu yang diberi roda. Yang penting ada kreativitas.

* Sediakan alat bantu untuk berpegangan, entah meja-kursi atau boks tidurnya. Yang penting, bendanya stabil atau tak mudah goyang apalagi jatuh saat dipakai si kecil untuk berpegangan. Juga aman tentunya dalam arti tak ada hal-hal yang bisa membahayakan si kecil seperti paku yang menonjol, ujung meja yang runcing, dan sebagainya.

* Perhatikan keamanan ruangan. Singkirkan semua benda yang mudah pecah atau dapat membahayakan si kecil. Bila mungkin, lengkapi ruangan dengan karpet hingga bila terjatuh, si kecil tak merasa terlalu sakit.

* Ciptakan suasana gembira. Antara lain, beri ia teman sebaya untuk belajar berjalan. Dengan begitu, ia merasa mendapat “saingan” yang seimbang, hingga makin terpacu untuk juga bisa berjalan seperti “saingan”nya.

Saat ini banyak tempat bermain untuk batita, termasuk bayi. Kita bisa memanfaatkannya, terutama jika di rumah tak ada teman sebaya buat si kecil. Selain si kecil bisa bermain dengan fasilitas yang ada, ia pun bisa mengembangkan psikomotoriknya. Jadi, bila temannya seusia di tempat bermain itu sedang giat berlatih berjalan, tak tertutup kemungkinan si kecil jadi terdorong untuk ikut belajar berjalan juga. Namun jangan bawa si kecil ke sana kala tengah sakit semisal batuk-pilek, karena bisa membuat kondisinya tambah parah, disamping merugikan teman-temannya.

* Selalu dampingi si kecil. Idealnya, si pendamping adalah orang yang masih tangkas hingga bila si kecil menunjukkan tanda-tanda akan jatuh, si pendamping bisa cepat mengamankannya.

* Jangan bandingkan kemampuan si kecil dengan teman-temannya ataupun saudaranya. Misal, si kakak dulu sudah bisa berjalan di usia 10 bulan, sedangkan si adik sudah lewat 10 bulan belum juga menunjukkan tanda-tanda mau belajar berjalan. Ingat, perkembangan tiap anak berbeda-beda, karena perkembangan otak dan alat koordinasinya tak sama. Selain faktor genetik dan latihan, serta sifat si kecil ­pemberani atau penakut- juga ikut mempengaruhi cepat

Faras Handayani/nakita

Lemak Dan Kecerdasan

S elain sumber tenaga, lemak juga penting untuk pembentukan sel saraf otak. Tapi jangan berlebihan, lo! Kebutuhan lemak untuk anak sekitar 20-25 persen dari total kalori.

Ibu-Bapak mungkin masih ingat dengan Omega-3 dan DHA, kan? Itu, lo, kelompok asam lemak esensial yang sangat diperlukan tubuh. Sayangnya, tubuh manusia tak membentuk sendiri asam lemak esensial, sehingga harus dipasok dalam bentuk yang terdapat pada makanan atau bisa ditambahkan pada makanan tertentu. Tak heran, kan, kita sering mendengar susu formula tertentu mengandung DHA atau dilengkapi Omega-3.

Kita tahu DHA (dokosaheksaenoat) mempunyai manfaat besar bagi proses tumbuh kembang sel-sel otak dan retina janin maupun bayi. Jadi, bisa kita bayangkan apa yang terjadi bila pada masa tersebut (dari janin hingga bayi) ia kekurangan pasokan DHA; akan ditandai dengan rendahnya kemampuan kognitif dan intelektual anak. Jadi, jelaslah asam lemak esensial satu ini berkaitan dengan kecerdasan.

Kecuali itu, asam lemak juga berperan penting dalam aktivitas sehari-hari sebagai sumber energi. Kecuali lemak, ada 2 nutrien penting lain, yaitu karbohidrat dan protein. Normalnya, kebutuhan total kalori tiap orang diperoleh dari ketiga nutrien tersebut. “Nah, sekitar 20-25 persen dari kebutuhan total kalori adalah kebutuhan lemak,” jelas Dr. H. M. Arifin Suyardi, MSc., ahli gizi pada bagian Ilmu Gizi FKUI Jakarta. Misal, kebutuhan kalori kita 2000 kkal. Berarti, 1/5 (20 persen) sampai 1/4 nya (25 persen) berasal dari lemak, yang diperoleh dari makanan sehari-hari. “Berbeda dengan masyarakat di negara Barat yang umumnya mengkonsumsi lemak sampai batas 30 persen,” tambah Arifin.

LEMAK JENUH DAN TAK JENUH

Sebetulnya lemak terdapat pada makanan dan tubuh kita. Namun tak berarti lemak makanan sama dengan lemak tubuh kendati namanya tetap lemak. Seperti halnya protein yang ada di makanan dan tubuh, protein tubuh dibuat dari ratusan asam amino yang didapat dari makanan, baik hewani maupun nabati, lalu bergabung dan dirangkai di tubuh. Namanya pun protein tapi sudah lebih kompleks daripada protein makanan.

Sementara lemak dalam ilmu gizi merupakan lemak netral. Lemak memiliki ikatan yaitu asam lemak dan gliserol. Secara garis besar, jelas Arifin, asam lemak dibagi dua; asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh terbagi lagi; ada yang mempunyai rantai panjang, rantai sedang dan rantai pendek. “Asam lemak jenuh yang mempunyai rantai pendek atau sedang mudah dicerna dibandingkan yang berantai panjang,” jelas Arifin.

Asam lemak jenuh umumnya kebanyakan berasal dari lemak hewani. Biasanya lemak jenuh mempunyai titik lebur tinggi. Misalnya, pada suhu kamar 25 derajat Celcius akan tetap membeku. Sedangkan asam lemak tak jenuh kebanyakan berasal dari lemak nabati, kecuali minyak kelapa. Pada lemak tak jenuh biasanya pada suhu kamar tetap mencair. “Nah, minyak kelapa meskipun termasuk asam lemak jenuh dengan rantai sedang biasanya pada suhu kamar tetap mencair. Ada kalanya bila di daerah dingin minyak kelapa membeku.”

Sebetulnya kedua jenis lemak tersebut, lanjut Arifin, sama-sama menguntungkan bagi tubuh. “Asalkan dikonsumsi selalu seimbang sesuai kebutuhan. Jadi, tak boleh terlalu banyak mengkonsumsi lemak jenuhnya saja, misalnya, karena bisa mengakibatkan gangguan kelebihan lemak dalam tubuh sehingga dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Terutama pembuluh darah jantung dan otak. Begitu juga sebaliknya.”

UNTUNG-RUGINYA LEMAK

Yang jelas, lemak tersebar di mana-mana di dalam tubuh. Lemak tubuh dibentuk karena ada kelebihan energi yang dikonsumsi. Jadi, jika kebutuhan tubuh akan energi sudah terpenuhi sedangkan intake makanan berlebih, maka kelebihan itu akan diubah oleh tubuh menjadi lemak. “Lemak inilah yang disimpan sebagai cadangan energi.” Sebetulnya kelebihan lemak tubuh di satu sisi merupakan suatu keuntungan, karena dengan demikian berarti cadangan energinya tinggi. “Tapi, batas toleransi kelebihannya sekitar 110 persen dari BB (berat badan) ideal sehingga pada saat tubuh kekurangan maka lemak tadi bisa dimanfaatkan yang dilakukan dengan cara oksidasi sehingga menjadi energi.” Di sisi lain, Arifin mengingatkan, “Bila cadangan lemak yang disimpan dalam tubuh berlebihan maka bisa juga merugikan. Karena penimbunan lemak yang terjadi tak hanya di kulit saja, tapi bisa juga di pembuluh darah.” Padahal setiap organ tubuh, kan, ada pembuluh darahnya. Nah, bila terjadi penyempitan pembuluh darah jantung bisa menyebabkan serangan jantung. Lalu kalau terjadi penimbunan lemak di pembuluh darah otak bisa menyebabkan sirkulasi darah terganggu sehingga kerap menimbulkan pusing, konsentrasi berkurang dan sebagainya.

Memang kelebihan mengkonsumsi energi – baik karbohidrat, lemak atau protein- bisa menyebabkan pula kondisi overweight atau obesitas, sehingga mengganggu kegiatan dan kesehatan fisiknya. Nah, untuk mengurangi kelebihan kadar lemak dalam tubuh, maka orang tersebut harus mengembalikan status gizinya ke normal. “Seringkali orang salah mengartikan, ‘Makannya sedikit, kok tetap gemuk.’ Mungkin ia makan utamanya memang sedikit, tapi ngemilnya banyak. Padahal ngemil, kan, juga berarti sumber energi.”

Jadi, cara paling alami menurunkan kadar lemak atau mengurangi obesitas adalah mengurangi intake atau dengan pemanfaatan energi, semisal berpuasa, makan sedikit dan berolah raga. Dengan demikian akan terjadi pembongkaran lemak-lemak dalam tubuh.

SUMBER KANDUNGAN LEMAK

Lemak bisa terdapat dalam makanan hewani dan nabati. Namun kadarnya berbeda. Pada makanan hewani kandungan lemaknya lebih banyak dibandingkan dari makanan nabati. Misalnya, 100 gram daging, lemaknya lebih besar dibandingkan 100 gram tempe atau 100 gram tahu.

Lemak hewani bisa didapat pada daging, telur, ikan. Bahan makanan sebagai sumber DHA terdapat juga dalam ikan, udang, kepiting dan makanan laut lainnya. Sedangkan lemak nabati bisa diperoleh dari tempe, tahu, minyak kacang kedelai dan sebagainya.

Menurut ukuran rumah tangga (Urt), lemak hewani per satu satuan (1 potong= 50gr) kadar lemaknya 6 gram. Untuk nabati per satu-satuan kadar lemaknya 3 gram. Sedangkan untuk minyak per satu-satuannya, seukuran satu sendok teh atau setengah sendok makan kadar lemaknya 5 gram. Susu per satu-satuannya mempunyai kadar lemak 7 gram. Sementara karbohidrat dan sayuran tidak mempunyai kadar lemak.

Jadi, lemak memang tak bisa diabaikan. Apalagi kalau dicoret dari daftar makanan balita kita hanya karena takut dia gemuk. Yang terpenting, kan, justru diberikan secara seimbang dan sesuai kebutuhan si kecil.

PEMENUHAN BAGI BALITA

Yang jelas, kebutuhan lemak untuk anak pun sama saja, sekitar 20-25 persen dari total kalori. “Untuk anak sehat, kebutuhan kalori bayi usia 0-12 bulan kurang lebih 100 kalori per kg BB per hari. Biasanya bayi umur 5-6 bulan beratnya dua kali berat waktu lahir. Jika usianya satu tahun berarti tiga kali berat waktu lahir,” terang Arifin.

Sedangkan untuk anak 1-5 tahun, kebutuhan kalorinya kurang lebih 80-90 kalori. Misalnya, anak usia 3 tahun dengan BB waktu lahir 3,5 kg. Normalnya, saat usia satu tahun beratnya tiga kali berat lahir (3 x 3,5 = 10,5 kg). Jika umurnya 3 tahun berarti kenaikan tahun-tahun berikutnya hanya 2 kilogram. Jadi bila saat ini usianya 3 tahun maka beratnya menjadi 14,5 kg, berarti kebutuhannya 1305 kalori per hari. “Seperempat dari jumlah itu diperoleh dari lemak.”

Sementara itu, kebutuhan lemak pada bayi yang menyusui ASI selama 4 bulan sudah tercukupi tanpa pemberian apapun. Sedangkan yang tidak menyusui ASI eksklusif, pemenuhan lemaknya akan diperoleh dari tambahan susu formula. “Karena susu formula pun berpengaruh dengan adanya unsur karbohidrat, protein dan lemak sebagai tiga unsur penghasil energi.” Nah, pada bayi tertentu memang ada yang tak bisa mencerna lemak akibat kurangnya enzim lipase atau enzim pencerna lemak atau ada gangguan absorbsi lemak. “Biasanya bayi-bayi ini mengkonsumsi formula yang mengandung asam lemak rantai pendek atau menengah agar absorbsinya mudah.”

Dedeh Kurniasih/nakita

Awas, Polusi Suara Bikin Tuli!

Iman Dharma/nakita

I ni polusi yang kerap tak kita sadari. Padahal, bisa membuat si kecil jadi tuli. Polusi udara dan air pun tak boleh dianggap remeh.

Penelitian di Cina membuktikan, ibu hamil yang tinggal di pemukiman sekitar bandara bisa melahirkan bayi prematur. Soalnya, tiap hari mereka harus mendengar frekuensi suara dengan kekuatan 80 desibel. Nah, bayi ­bayi prematur ini, sekitar 4-10 tahun akan mengalami gangguan pendengaran atau ketulian terhadap frekuensi tinggi. Bukankah bayi prematur amat sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi?

Penelitian mengenai polusi suara di negara-negara maju juga mengungkap, bayi prematur yang dirawat di Neonatal Intensif Care Unit (NICU untuk bayi baru lahir) akan mengalami gangguan pendengaran di kemudian hari, karena mereka mendapatkan suara-suara/bunyi-bunyian berfrekuensi tinggi di atas 40 desibel. Jadi, dalam penelitian tersebut, mereka mengambil kesimpulan bahwa bunyi-bunyian di NICU seperti suara monitor dan inkubator yang dibuka-tutup yang memiliki suara di atas 40 desibel akan mengganggu pendengaran bayi di kemudian hari. Namun mengapa mereka memilih bayi-bayi di NICU, menurut Dr. Karel A.L. Staa dari RS Pondok Indah, Jakarta, “mungkin karena di negara-negara tersebut sulit menemukan polusi suara. Beda di Indonesia, kan, banyak banget; bukan hanya di rumah sakit, di luar pun polusi suara banyak sekali.”

PRODUKTIVITAS BERKURANG

Kendati penelitian-penelitian tersebut tak dilakukan di Indonesia, bukan berarti hasilnya tak berlaku di negeri ini, lo. Bukankah sebenarnya polusi suara di negeri-negeri tersebut jauh lebih rendah ketimbang di sini? Lihat saja, berapa banyak penduduk negeri kita yang berumah di tempat-tempat berisik semisal dekat pabrik yang mengeluarkan frekuensi suara tinggi. “Bisa-bisa pendengaran mereka akan terganggu karena hampir sepanjang hari terjadi polusi suara.” Belum lagi yang berumah di sekitar rel kereta api. “Suara kereta api, kan, frekuensinya cukup tinggi. Walau kita belum mengadakan penelitian, kita bisa ambil kesimpulan bahwa frekuensi dan durasi tinggi akan berdampak pada pendengaran. Misal, dalam frekuensi 80 desibel akan terjadi gangguan pendengaran bila durasinya mencapai 8 jam. Namun bila frekuensi lebih tinggi, mungkin 1 jam saja sudah berdampak.”

Sayang, banyak orang tak sadar terhadap dampaknya. “Mereka merasa oke-oke saja berumah di lingkungan dengan frekuensi suara yang tinggi.” Terlebih buat mereka yang tingkat pendidikannya rendah, tuli atau tak mendengar pada frekuensi tinggi, akan terasa biasa-biasa saja. Dipikirnya, mereka tak mendengar lantaran suasananya memang berisik. Apalagi untuk pemeriksaan rutin ke dokter, terlebih dokter spesialis, sama sekali tak terpikirkan oleh mereka. Padahal, jika didiamkan terus, produktivitas mereka dikemudian hari akan terganggu. Bukankah faktor telinga amat penting?

Jadi, jangan anggap remeh polusi suara. Dampaknya sangat tak menguntungkan buat si kecil. Kita pun tak bisa mencegahnya dalam arti tak ada yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya kecuali tak berumah di lingkungan tersebut. “Mungkin pemerintah harus merancang, di radius berapa kilometerkah, orang bisa bermukim sekitar jalur kereta api atau bandara. Jangan cuma keamanan fisik saja yang diperhatikan, tapi juga harus mempertimbangkan polusi suara.” Dengan demikian, instansi yang berwenang perlu mengadakan penelitian, mengingat masalah ini mencakup sumber daya manusia di kemudian hari. “Jika salah satu alat inderanya tak berfungsi, jelas akan mengurangi produktivitas. Lagi pula, anak-anak, kan, tak berdosa,” tandas Karel.

POLUSI UDARA

Tentang polusi udara, contoh yang sangat mengganggu adalah pembakaran sampah yang tak pada tempat dan waktunya. Sementara yang agak tersamar tapi punya dampak negatif adalah pemukiman di sekitar jalan raya. “Jadi, bukan cuma rumah-rumah kumuh, tapi rumah-rumah mewah di tepi jalan raya pun bisa dikategorikan berbahaya,” ungkap Karel. Bayangkan, kadar gas CO (karbon monoksida) yang keluar dari bis-bis umum, apalagi yang berbahan bakar solar karena bahan bakar ini tak ramah lingkungan. “Bahan bakar solar memiliki sisa pembakaran paling banyak ketimbang bahan bakar lain.”

Tak heran bila kita lihat banyak debu menempel di kaca-kaca rumah tersebut padahal sudah dibersihkan tiap hari. Dari situ saja bisa kita bayangkan berapa banyak partikel yang dihirup manusia di daerah tersebut. Ini tentu tak bagus buat alat pernapasan. Bukan cuma orang dewasa yang akan terganggu, si kecil pun demikian. “Bayi bisa mengalami gangguan fungsi paru-paru. Bisa juga terjadi infeksi saluran pernapasan.” Jika berkepanjangan, akhirnya akan mengganggu semuanya: dari gejala tak mau makan hingga timbul penyakit sekunder seperti batuk-batuk sampai kanker, lantaran daya tahan saluran pernapasannya rendah. “Penyakit kanker bisa terjadi 20-30 tahun kemudian. Kasihan sekali, kan, mereka meninggal muda tapi enggak sadar penyebabnya apa.”

Lagi-lagi peran pemerintah amat besar untuk merancang agar di tepi jalan raya tak boleh ada pemukiman kecuali toko, misal. “Namun ini agak sulit karena berhubungan dengan planologi suatu kota sejak awal. Kita, kan, enggak bisa mengubah suatu kota dengan mendadak,” bilang Karel. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghindari berumah di sekitar tepi jalan raya. Jika sudah terlanjur, siasati dengan membangun rumah kecil tapi berpekarangan luas hingga tersedia lahan buat ditanami pepohonan. Dengan begitu, ada penghalang alami dari gas CO. Saran lain yang dianjurkan Karel, buatlah kamar tidur dan ruang keluarga menghadap ke pekarangan belakang, bukan ke tepi jalan raya.

Hal lain yang harus diperhatikan, hati-hati memanaskan mobil. Khususnya buat Ibu dan Bapak yang tiap pagi pasti memanaskan mobil sebelum berangkat ke kantor. Soalnya, dengan kita memanaskan mobil, terlebih di ruang tertutup, si kecil akan menghirup gas CO. “Jika kita memanaskan mobil selama 10-15 menit saja setiap harinya, pasti gas tersebut akan terhirup juga oleh bayi.” Jadi, sarannya, kalau memanaskan mobil jangan di ruang tertutup. Bila mungkin, buka pintu garasi. Jika mobil sudah agak panas, keluarkan ke tempat terbuka dan jauhkan si kecil dari mobil yang sedang dipanaskan.

POLUSI UDARA

Akan halnya polusi air, yang tersamar dan jarang disadari adalah kaporit di kolam renang. Padahal, tak sedikit, lo, orang tua yang membawa bayinya ke kolam renang.

Kaporit, terang Karel, pada tingkat kejenuhan tertentu akan berdampak negatif. Antara lain, sehabis berenang, mata jadi merah. Belum lagi kolam renang di beberapa kota, termasuk Jakarta, tak mengganti airnya setiap hari. “Air di kolam renang itu disediakan untuk satu bulan. Jadi, hanya diputar menggunakan mesin, lalu daun-daun yang berjatuhan di kolam dibersihkan.” Tak heran jika bisa timbul jamur di kulit sehabis berenang. “Terlebih pada bayi, kulitnya amat sensitif. Hingga, jika tak dimandikan lagi setibanya di rumah, cepat sekali terkena jamur.”

Tentu saja, tak semua kolam renang seperti itu. Di beberapa tempat yang memiliki sumber air sendiri, biasanya kolam renang bisa dijamin kebersihannya. Yang penting, usai berenang, si kecil harus dimandikan dengan air bersih. Selain itu, sebelum si kecil diajak masuk ke kolam, sebaiknya kita “tes” dulu tingkat kejenuhan kaporit air kolam. Caranya, kita masuk duluan ke kolam, lalu tenggelamkan kepala dengan mata terbuka. Jika mata terasa amat perih, sebaiknya tunda mengajak si kecil berenang. Kendati ia cuma main-main air saja, tapi bukan tak mungkin air kolam akan memercik ke matanya hingga bisa menimbulkan rasa perih dan akhirnya mata jadi merah.

Faras Handayani/nakita