08 Maret 2011

Si Kecil Amat Pengertian

P unya anak suka mengamuk, bingung. Namun bila si kecil penurut, curiga perkembangannya tak normal. Serba salah, ya. Bagaimana, sih, seharusnya perkembangan si batita?

Seorang ibu menceritakan, putrinya yang berusia 2,5 tahun punya perkembangan bagus: ngomongnya sudah lancar, bisa menyanyi dan berhitung, juga mudah menghapal, serta sosialisasinya pun bagus. Cuma, ada satu hal dari si anak yang bikin sang bunda bingung. "Masa umur segitu dia punya perasaan seperti anak yang sudah besar. Kalau ada temannya dinakali, dia akan bilang, 'Mbok jangan dinakali. Kasihan, lo.' Dia juga tak pernah minta sesuatu dengan memaksa," tutur Ny. Utami Suprayitna dari Muntilan dalam suratnya kepada nakita.

Tentu saja, Ny. Utami amat senang dengan perkembangan buah hatinya itu. "Aku amat bersyukur punya anak yang tak menjengkelkan. Aku tak pernah membentak apalagi menghajar karena kalau diberi pengertian seperti layaknya anak yang sudah besar, dia pasti nurut." Hanya saja, kadang terbersit keinginan dalam dirinya untuk punya anak yang kalau minta sesuatu sambil guling-guling di toko, misal. Di akhir suratnya, ia pun mempertanyakan, apakah perkembangan perasaan anaknya itu wajar.

AMAT INDIVIDUAL

"Sebagai orang tua, kita memang sering bersikap 'lucu'. Kalau anaknya 'nakal' pasti jengkel, sementara kalau anaknya bersikap manis malah bingung," kata Dra. Rose Mini A.P. M.Psi. Pasalnya, kita sering terjebak pada pola pikir bahwa perkembangan anak merupakan kesepakatan-kesepakatan tertentu. Misal, di usia batita yang muncul harusnya perilaku negativistik. Hingga, kala anak menampilkan sikap penurut, orang tua lantas curiga perkembangannya enggak wajar.

Penting diketahui, perkembangan anak amat individual sifatnya karena semua orang pada dasarnya berbeda satu sama lain. Jadi, meski anak lain yang sebaya anak kita lebih kerap ngambek atau ngamuk kala keinginannya tak terpenuhi sementara anak kita sekali dikasih tahu sudah mengerti, bukan berarti anak kita tak normal perkembangannya. "Inilah yang dinamakan individual difference," tegas psikolog yang akrab disapa Romi ini. Dengan demikian, kita jadi bisa memahami, ada anak yang lebih cepat tapi ada pula yang lambat perkembangannya. Bahkan, ada yang menonjol pada satu atau beberapa aspek inteligensi yang disebut anak berbakat. Ini semua normal.

Namun tentu saja, perkembangan tiap anak tak bisa dilepaskan dari faktor genetik, selain kontribusi lingkungan pun turut mempengaruhi. Jadi, anak takkan punya sikap penurut atau pengertian seperti itu dengan tiba-tiba. "Jika lingkungan tak memberi stimulasi, mustahil, dong, potensi anak bisa keluar. Disinilah orang tua sebagai lingkungan terdekat dengan anak amat memegang peranan." Sekalipun si anak berbakat, tapi jika tak didukung pola asuh yang tepat, keberbakatannya takkan menonjol.

JAUHKAN SIKAP OTORITER

Anak yang penuh pengertian, terang Romi, kemampuannya untuk memahami norma memang amat menonjol dalam dirinya. Itu sebab, ia bisa membedakan nilai baik dan buruk. Ia pun amat cepat menangkap maksud/keinginan dan perintah orang lain atau orang tuanya. Makanya, hanya dengan sekali diberi tahu, ia sudah mengerti. "Kalau semua orang tua bisa merangsang anaknya seperti itu, malah bagus. Jadi, takkan ada lagi orang tua yang mengeluh anaknya 'bandel'," katanya.

Namun harus dibedakan antara penurut yang memang dapat memahami norma dengan si penurut pasif, karena yang pasif ini hanya mengiyakan apa kata orang lain atau orang tua. "Dia takut dimarahi orang tua kalau enggak menurut." Bukankah orang tua pada umumnya menuntut anak berlaku manis? Padahal, anak yang demikian tak bisa berkembang optimal. Salah satunya, "inisiatif dan kreativitas anak akan mati."

Itu sebab, Romi menganjurkan agar anak diberi peluang dan kesempatan untuk melakukan segala sesuatu sesuai tingkatan usianya, termasuk mengeluarkan pendapat. Dengan begitu, wawasannya menjadi kaya, inisiatif dan kreativitasnya pun berkembang. Hingga ia pun berani to be difference alias tampil beda, berani menuangkan pikiran dan keinginannya. Misal, kala menonton TV, ia berani mengatakan, "Orang itu jahat, ya," meski orang-orang di sekelilingnya berkomentar lain.

Ini berarti, kita harus menjauhkan sikap otoriter maupun disiplin kaku, ya, Bu-Pak. Soalnya, pola asuh yang tak kenal negosiasi ini tak memungkinkan si kecil memiliki keleluasaan gerak yang akhirnya malah menghambat perkembangan anak. Jangan lupa, si kecil bisa kehilangan inisiatif dan kreativitasnya. Sebaliknya, bila kita kelewat longgar pun enggak bagus buat tumbuh kembang si kecil karena dia jadi tak tahu aturan-aturan yang berlaku. Kalau sudah begitu, dia akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

TINGKAH LAKU

Pun terhadap anak yang amat pengertian, hendaknya keistimewaan ini jangan sampai membuat anak di"genjot" sedemikian rupa hingga dia tak punya pilihan lain kecuali mematuhi norma atau keinginan orang lain, termasuk orang tua. Soalnya, dalam proses tumbuh kembang, masih banyak aspek yang juga perlu mendapat stimulasi. Antara lain, inteligensi, daya ingat, keterampilan motorik, kreativitas, inisiatif, kerja sama,dan sebagainya. Jadi, "biarkan semua aspek itu tumbuh dan berkembang apa adanya agar optimal," tandas Romi.

Lagi pula, tiap anak boleh berbuat "nakal", kok. Dia juga boleh enggak suka dan berhak mengutarakan apa pun keinginannya. Justru dari situ insiatif dan kreativitasnya akan muncul, hingga seluruh potensinya pun berkembang. Jangan sampai si anak yang penuh pengertian ini akhirnya malah tak mengembangkan semua aspek tadi karena takut dimarahi orang tua lantaran tuntutan untuk menjadi anak manis.

Hal lain yang perlu dipahami, dalam diri tiap individu dan di tiap level usia ada 3 macam tingkah laku yang suatu waktu muncul, yaitu tingkah laku orang tua, tingkah laku dewasa, tingkah laku kanak-kanak. Merajuk, misal, merupakan tingkah laku kanak-kanak tapi orang dewasa dan orang tua pun bisa saja melakukannya. Sebaliknya, sikap penuh pengertian merupakan ciri orang tua, tapi bisa juga terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. Namun begitu, di tiap-tiap level usia diharapkan yang muncul lebih banyak adalah tingkah laku yang sesuai usianya. Nah, pada anak, tentulah yang muncul diharapkan lebih banyak tingkah laku kanak-kanak sesuai usianya.

Bila anak justru kelewat ekstrem menunjukkan pengertian atau nyaris setiap saat ia tampil bak orang tua hingga tak lagi tersisa ciri-ciri kekanakannya, berarti keistimewaannya di sisi ini sudah berlebihan sementara sisi lainnya mungkin malah terabaikan. Dengan demikian, pengertiannya yang berlebihan ini sudah tak wajar lagi.

BISA BERUBAH

Sikap penuh pengertian di usia ini bisa berlanjut hingga di usia prasekolah. Namun bisa juga terjadi sebaliknya. Jadi, jangan kaget, ya, Bu-Pak, jika si kecil yang amat pengertian di usia ini berubah jadi suka ngambek dan mengamuk di usia selanjutnya. Pasalnya, terang Romi, "usia lima tahun pertama merupakan masa-masa anak mudah menyerap bila diberi tahu atau dikasih contoh macam-macam. Namun apa yang diserapnya tak semuanya langsung dikeluarkan, tapi dimasukkan dulu ke alam bawah sadarnya dan suatu waktu bisa dikeluarkan."

Selain itu, di usia prasekolah biasanya lingkungan sosialisasi anak makin meluas. Ia pun mulai masuk "sekolah". Tentunya, apa yang dia dapat dari luar rumah tak selalu sama dengan apa yang didapatnya dari rumah. Nah, ketika dia mendapatkan norma atau aturan yang berbeda, bisa jadi ia merasa norma/aturan di luar lebih enak daripada di rumah. Kalau di rumah ia kerap dilarang, misal, sementara di "sekolah" ia melihat teman-temannya bebas berbuat apa saja, ia tentu akan merasa, "Enakan yang boleh ngapa-ngapain, dong." Akibatnya, norma/aturan dari luar itulah yang ia terapkan dan dibawa pulang, hingga orang tua pun terkaget-kaget, "Lo, kok, anakku sekarang jadi 'bandel'?"

Nah, untuk mencegah hal demikian agar tak terjadi, Romi mengingatkan agar dalam mengajarkan apa pun kepada anak harus dibarengi contoh-contoh konkret. Selain tentunya orang tua pun harus konsisten dengan apa yang dia ajarkan, menerapkan disiplin (tak kaku) dan konsekuensinya bila anak melanggar serta reward bila anak taat aturan.

JADI "SOK TUA" LANTARAN MENIRU

Jika si kecil tinggal di lingkungan yang penuh dengan sosok "tua" seperti kakek-nenek, om-tante, pengasuh, dan kakak yang usianya terpaut jauh hingga cuma dia yang paling kecil di keluarga, bisa jadi perilaku "sok tua"nya disebabkan perilaku mereka. Bukan berarti anak yang serumah cuma dengan orang tua takkan berperilaku demikian, lo. Soalnya, terang Romi, proses modelling atau meniru di tahap usia ini lagi kental-kentalnya, hingga apa saja yang dilihat dan dialaminya akan ia serap untuk kemudian dimunculkannya saat bergaul dengan orang lain ataupun kala bermain. Misal, si kecil susah sekali makannya, lalu kita nasehati, "Adek harus makan supaya cepat besar," atau "Kalau enggak makan, nanti Adek bisa sakit." Nah, ketika ia bermain dengan bonekanya, ia akan bilang pada si boneka, "Ayo, kamu harus makan biar cepat besar." Begitu pun kala ia melihat temannya tak mau makan, ia akan lontarkan perkataan tersebut.


Yanti/Achmad Suhendi/nakita

Apa Pentingnya Sebuah ‘Harga Diri’?

Hampir setiap saat kita mendengar kata ‘harga diri’, ‘kepercayaan diri’ dan kata-kata sejenisnya, tapi apakah kita memahami benar pentingnya sebuah ‘harga diri’ bagi kehidupan anak kita di masa yang akan datang? Apakah dengan memiliki harga diri ini mereka bisa berbahagia?

Dalam kehidupan, kita sering kali melihat orang-orang yang selalu merasa ‘kurang’, kurang cantik, kurang kaya, dan sebagainya, sehingga mereka tidak merasa bahagia, karena merasa tidak sekaya si-A, atau tidak seberuntung si-B,  itulah gambaran orang-orang yang memiliki harga diri rendah, sehingga mereka selalu membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitanya supaya dia merasa lebih baik atas dirinya sendiri. Sedangkan orang dengan harga diri tinggi, dalam situasi yang sama akan belajar untuk melewati masalahnya, dan berjuang untuk meningkatkan nilai tambah dalam dirinya.

Orang yang memiliki harga diri, cenderung lebih dapat menerima hal baru, lebih cepat pulih dalam menghadapi krisis, dan tidak takut mengambil resiko. Mereka tidak menghabiskan waktunya untuk ketakutan sambil memikirkan satu masalah terus menerus. Mereka cenderung lebih fleksibel dan memiliki keyakinan untuk mengambil tindakan dalam mengatasi masalah yang timbul. Dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi, dan mudah bersosialisasi.

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa anak yang memiliki harga diri akan lebih bahagia, mudah beradaptasi, kreatif, lebih percaya diri dan ulet. Dan sebagai orangtua tentunya kita menginginkan anak kita tumbuh menjadi orang yang memiliki harga diri kan? Karena itu jangan pernah berhenti memberikan dorongan positif dan dukungan kepada anak anda, karena sikap anda sebagai orang tua merupakan faktor terpenting dalam menciptakan rasa percaya diri dan harga diri anak. Perlakuan orang tua selama masa pertumbuhan anak akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan mereka selanjutnya.

Menemukan Anak Hilang di Keramaian

Saat ini di beberapa media massa, mulai kerap dijumpai kasus-kasus penculikan anak maupun anak hilang, terutama anak yang masih berusia 10 tahun ke bawah. Tidak heran, karena di bawah usia 10 tahun, anak masih polos dan mudah percaya kepada orang asing, yang berperilaku baik ataupun mengaku kenal dengan orang tuanya. Melarang anak untuk menghindari orang tak dikenal, bisa jadi bukan cara yang efektif untuk mengajarkan kemandirian pada anak. Namun, tanpa pengawasan, juga bisa fatal akibatnya.

Oleh sebab itu, berikut ini ada beberapa tips yang disarankan oleh Clint Van Zandt, seorang mantan anggota FBI di Unit Ilmu Perilaku:

1. Sebelum meninggalkan rumah atau sekolah, masukan catatan ke dalam saku baju setiap anak yang mencantumkan nama anak dan nomer telepon pengasuh atau penanggung jawab yang dapat segera dihubungi. Sebisanya, jangan mencantumkan alamat rumah karena Anda tidak ingin orang asing mengatakan kepada si anak bahwa dia harus mengantarkanny ke rumah.

2. Sebelum memasuki tempat umum, pastikan semua mengetahui rencana tersebut dan ke mana mereka harus pergi seandainya mereka terpisah. Keluarga harus selalu menetapkan tempat bertemu yang sudah disepakati sebelumnya, daerah air mancur di mal luar ruang yang luas atau apotek di pertokoan. Pastikan anak Anda mengerti bahwa dia sama sekali tidak boleh meninggalkan tempat ketika dia terakhir kali melihat Anda, kecuali pergi ke tempat pertemuan yang sudah disepakati sebelumnya. Dia harus memberitahu satpam, manajer toko, atau ibu yang membawa anak kecil bahwa dia tersesat. Dia tidak boleh duduk sendirian dan terlihat seperti sedang tersesat karena sikap seperti itu dapat menarik perhatian penculik.

3. Kalau anak sudah dibekali ponsel, maka ponsel dapat memudahkan pencarian dengan melaca ping yang dipancarkan ponsel dari menara ponsel terdekat, sehingga baik sekali jika memang memungkinkan untuk membekali anak dengan ponsel (catatan: tentu dengan pengawasan pemakaian pulsa pula oleh orang tua).

4. Ketika pergi ke tempat ramai seperti taman hiburan, gunaka kamera di ponsel Anda (jika ada kameranya) untuk memotret semua anak dalam kelompok Anda. Jadi, ada foto yang menunjukkan perawakan dan baju yang dipakai setiap anak, foto yang dapat digunakan oleh semua pencari dan bahkan dapat diunduh, disalin, dan disebarkan jika perlu.

5. Kenakan pakaian berwarna cerah pada anak-anak, terutama kuning dan hijau, warna yang kuat untuk membantu pencarian seandaina mereka terpisahkan. Karena sulit bagi anak untuk melihat wajah orang dewasa yang tinggi dan menutupi medan pandang mereka, sebaiknya Anda membawa sapu tangan besar atau selendang yang dapat Anda ikatkan ke lutut seandainya anak Anda hilang. Benda ini dapat dilihat si anak dari medan pandangnya.

6. Seandainya anggota kelompok Anda terpisahkan, segera beritahu satpam. Kebanyakan mal, taman hiburan, dan taman umum lainnya memiliki prosedur darurat yang dapat mereka terapkan, misalkan memanggil si anak lewat pengeras suara dan menutup semua jalan keluar, untuk memastikan anak Anda tidak berjalan keluar kawasan itu sendirian atau dibawa paksa oleh penculik. Satpam akan segera memberitahu semua toko atau karyawan tempat itu bahwa ada anak hilang dan akan mulai menonton video dari semua kamera keamanan. Ketika mencari sendiri, berdirilah di atas bangku agar Anda lebih tinggi daripada kerumunan orang di tempat itu, dan persempit pencarian Anda dengan melihat warna baju yang dikenakan anak Anda.

7. Yang terakhir, apabila anak sudah ditemukan, cepatlah puji dia dan jangan dimarahi. Anda harus menunjukkan kepadanya bahwa Anda merindukannya dan bahwa lain kali dia harus selalu berada dekat Anda. Jika memarahinya, Anda hanya menambahkan rasa bersalah kepada si anak yang baru saja mengalami pengalaman menakutkan.

(Sumber: Menemukan Anak Hilang di Keramaian, oleh Clint Van Zandt, 2008)

Selamat mencoba!!

Suwito Hendraningrat Pudiono, M.Psi, Psikolog

Pentingnya Kemandirian Anak

Mendidik kemandirian pada anak sejak usia dini, sangat penting. Kemandirian akan mendukung anak dalam belajar memahami pilihan perilaku beserta resiko yang harus dipertanggungjawabkan oleh anak. Semakin dikekang, anak akan semakin sulit untuk mengendalikan emosi, dengan kemungkinan perilaku yang akan muncul adalah perilaku memberontak atau justru, sangat tergantung pada orang lain (istilah umumnya adalah manja).

Namun, bagaimana sih sebenarnya langkah yang tepat dalam menanamkan kemandirian pada anak? Apakah dengan melepas begitu saja, mengatur dengan disiplin keras, atau mengarahkan secara positif?

Untuk itu, beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua dalam mendukung pembentukan kemandirian anak:

1. Tentukanlah alokasi waktu yang disediakan orang tua untuk anak-anak mereka.

2. Jika ada orang lain yang terlibat dalam pengasuhan anak hendaknya dibicarakan apa yang akan dilatihkan pada anak agar terjadi konsistensi antara orang tua dan pengasuh yang ditunjuk oleh orang tua.

3. Agar kemandirian dapat terbentuk lebih efektif, tentukanlah reward bagi anak,  namun jangan yang berlebihan sehingga anak kurang proses belajar dalam perolehan sesuatu.

4. Buatlah kesepakatan bersama antara ayah dan ibu mengenai kemandirian yang akan dilatihkan pada anak, agar anak tidak memanfaatkan keadaan yang lemah dan yang menguntungkan bagi anak.

5. Bila anak belum mencapai target kemandirian yang disepakati bersama, hendaknya orang tua dan pengasuh tidak bosan-bosannya untuk terus melatihkan dan membimbing anak agar berhasil. Kuncinya adalah disiplin dan konsisten dalam melakukannya.

6. Jika anak sudah mulai bertumbuh besar, buatlah daftar dan jadwal bersama dengan anak, harapannya adalah anak akan belajar untuk memahami apa yang harus dilakukan dan harus bagaimana ia bisa mencapainya.

Dengan demikian dapat disimpulkan mengenai kemandirian, bahwa kemandirian bukanlah keterampilan yang bisa terbentuk dengan cepat dan mudah namun keterampilan ini perlu diajarkan pada anak secara berulang-ulang sampai anak bisa memahaminya mengapa ia harus melakukannya.

Jika anak tidak dibimbing, diberitahu dan diajarkan, maka anak-anak tidak tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Kemampuan bantu diri inilah yang dimaksud dengan mandiri. Kemandirian juga dapat diasumsikan sebagai kemampuan dan keinginan untuk melakukan segala sesuatu sendiri. Misalnya makan, mandi, berpakaian, buang air kecil dan buang air besar sendiri. Namun perlu untuk diingat kemandirian dapat dicapai sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak karena berkaitan dengan kematangan anak dalam melakukan keterampilan tersebut.

Selamat Mencoba…

Siti Marini Wulandari, M.Psi. Psi

Mewaspadai Pertumbuhan Si Buah Hati

TEMPO Interaktif, Hingga umur 3 tahun, Adit tak juga bisa bicara. Anak itu jarang bersuara. Jika bersuara, dia masih mengeluarkan suara seperti bayi berusia 6 bulan. Ayahnya, Kisman, 45 tahun, curiga ada yang salah pada putra keduanya itu. “Padahal anak seusianya sudah lancar berbicara,” kata dia.

Warga Yogyakarta itu lalu memeriksakan anaknya ke dokter. Karena tak mendapat jawaban memuaskan, dia beberapa kali ganti dokter spesialis. Ternyata ada infeksi yang mengganggu pita suara dan saluran ke otaknya. “Ketika tahu, kami sudah terlambat,” ujarnya menyesal. Kini Adit berumur 11 tahun. Dia hanya bisa mengucapkan beberapa kosakata.

Memang, menurut dokter spesialis anak, Ahmad Suryawan, Sp A (K), tak ada panduan tumbuh kembang anak yang bisa jadi patokan apakah ia normal atau tidak. “Biasanya orang tua hanya membandingkan anaknya dengan anak yang seusia,” kata staf Divisi Tumbuh Kembang Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr Soetomo, Surabaya, ini.
Sayangnya, anak yang dijadikan perbandingan belum tentu normal pula sehingga orang tua sering telat mengetahui tumbuh kembang anaknya. “Ada kesenjangan antara keadaan anak dan pengetahuan orang tua,” ujarnya.

Menurut Ahmad, otak bayi mulai tumbuh sejak usia kandungan tiga pekan. Saat lahir, berat otak seperempat otak orang dewasa, dan sudah memiliki 100 miliar sel otak (neuron). Antarsel itu saling terhubung oleh jaringan (sinaps). Jumlahnya ada 50 triliun sinaps. Pada umur 1 bulan, jaringan sinaps tumbuh mencapai 1.000 triliun.

Kecepatan berpikir otak bergantung pada jumlah sinaps ini. Sinaps baru akan terbentuk dan menguat jika anak mendapat rangsangan (stimulasi), seperti mendengar, melihat, serta meniru, dan itu dilakukan berulang-ulang. Jadi stimulasi bisa dengan suara, gerakan, musik, bicara, membaca, dan lainnya. Jika tak digunakan, sinaps akan mati atau berkurang jumlahnya dan membuat kecepatan berpikir ikut berkurang.

Stimulasi harus dilakukan sedini mungkin. Pasalnya, perkembangan otak optimal cuma sampai usia 6 tahun. “Sembilan puluh lima persen perkembangan otak manusia terjadi sebelum umur 6 tahun,” tutur Ahmad. Maka periode ini disebut periode kritis atau genting. Jika ada gangguan pada periode ini, akan berakibat kelainan permanen dan sulit disembuhkan.

Kasus Adit, misalnya. Walau diketahui pada usia balita, hal itu sudah telat, dan akhirnya menjadi kelainan permanen.

Ahmad menjelaskan, puncak perkembangan otak bayi terjadi di awal hidupnya. Pada umur 3-6 bulan, fungsi melihat dan mendengar mengalami puncak. Hasil pendengaran dan penglihatannya atas lingkungan sekitar akan digunakan untuk kemampuan bicara. Pada umur 8 bulan, giliran fungsi bicara dan bahasa mencapai puncak. “Keempat fungsi ini terhenti perkembangannya pada umur 6 tahun.”

Adapun fungsi kognitif dan inteligensia mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. “Fungsinya mulai menurun hingga umur 15 tahun,” Ahmad melanjutkan. Selain membutuhkan stimulasi, perkembangan otak perlu didukung nutrisi. “Nutrisi dan stimulasi satu kesatuan.”
Nutrisi yang membantu dalam tumbuh kembang anak, menurut Dokter Iwan Surjadi Handoko, adalah Kolin, DHA-AA (docosahexaenoic acid- arachidonic acid), Alfa-laktalbumin, dan asam lemak esensial (Omega 3 dan Omega 6). Kolin adalah nutrisi esensial, salah satu anggota vitamin B yang larut dalam air. Gunanya untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang. “ASI adalah sumber kolin yang baik,” kata Business Development Manager Kalbe Nutritionals ini.

DHA-AA berfungsi untuk perkembangan otak dan penglihatan. Adapun Alfa-laktalbumin adalah protein yang dominan terdapat dalam ASI–mencapai 30 persen dari total protein, sedangkan susu sapi hanya 5 persen. “Dengan paduan antara stimulasi dan nutrisi cukup, diharapkan anak-anak akan tumbuh kembang dengan baik, sehat, dan normal.”

NUR ROCHMI


Fase Tumbuh Kembang

Tumbuh kembang adalah fase hidup yang dilalui anak. Tumbuh adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

Kembang adalah bertambahnya struktur dan kemampuan tubuh yang lebih kompleks meliputi kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian. Berikut ini ciri tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.

0-3 bulan : Terkejut mendengar suara, mengikuti obyek dengan mata.

3-6 bulan : Berbalik telungkup ke telentang dan tertawa/menjerit kala diajak bermain.

7-9 bulan : Duduk, bermain tepuk tangan/cilukba.

9-12 bulan : Merangkak, berjalan dengan dituntun, menyentuh benda dan memasukkannya ke mulut.

12-18 bulan : Memanggil orang tuanya, berjalan-berlari, belajar makan/minum sendiri.

18-24 bulan : Bisa berdiri sambil memegang benda, menyebut beberapa kata yang memiliki arti.

2-3 tahun : Bisa membedakan mainan, bisa menendang bola sambil lari

3-4 tahun : Bisa berdiri dengan satu kaki, belajar memakai pakaian, dan bermain dengan anak lain.

4-5 tahun : Menari, senang bertanya, menggambar lingkaran atau tanda silang.

5-6 tahun : Bisa berjalan lurus. Mengenal warna, lawan kata, dan angka.

Nur Rochmi | berbagai sumber

Aktivasi otak tengah tidak serta merta menjadikan anak cerdas

Aktivasi Otak Tengah (AOT) sedang marak dibicarakan, diliput media massa, dan menjadi trend di kalangan menengah ke atas - itu karena biaya mengikuti AOT ini tidak bisa dibilang murah. Inti dari AOT adalah mengaktifkan otak tengah  sehinga otak kanan (emosional, EQ)  dan otak kiri (IQ, intelektual) dapat berkembang maksimal.

Betul, bahwa segera setelah mengikuti AOT , anak akan memiliki kemampuan yang lebih dan salah satu hasil yang langsung dapat terlihat adalah kemampuan untuk membaca dengan mata tertutup. Tetapi, tentu bukan itu tujuan utamanya. Yang kita harapkan adalah anak yang mempunyai konsentrasi tinggi, daya ingat yang baik, kreatif dan semua hal positif yang menunjang perkembangannya menjadi anak yang cerdas secara emosional dan intelektual. Semua hasil positif yang dijanjikan atau yang kita harapkan, tidak serta merta didapat secara otomatis setelah mengikuti AOL. Tetap diperlukan bimbingan yang intensif untuk terus melatih kemampuan yang diperoleh setelah AOT.

Banyak pro kontra tentang AOT yang terus berkembang yang sebenarnya tidak perlu menjadi perhatian kita. Fokus kita seharusnya pada persamaan persepsi bahwa yang baik bukan jenius tapi yang seimbang antara kecerdasan emosional (EQ) dan Intelektual (IQ) sehingga muncullah kecedasan spritual (SQ) yang juga baik.

Jadi, kalau kita belum mampu atau tidak mau mengikutsertakan anak kita pada program AOT, minimal kita melatih agar otak kiri dan otak kanan anak berkembang sama baiknya dan menjadi seimbang. Latihan yang sudah kita kenal adalah adalah :

1. Tangan kanan menepuk-nepuk kepala, tangan kiri melakukan gerakan memutar di atas perut. Lakukan dalam 8 hitungan, lalu lakukan yang sebaliknya.

2. Kepalkan tangan kanan dan lakukan gerakan seperti menumbuk pada paha kanan, sementara tangan kiri melakukan mengelus paha kiri. Lakukan dalam 8 hitungan, lalu lakukan yang sebaliknya.

Beberapa senam otak lainnya :

1. Gerakan Silang
Cara: Kaki dan tangan digerakkan secara berlawanan. Bisa ke depan, samping atau belakang. Agar lebih ceria anda bisa menyelaraskan dengan irama musik.
Manfaat: Merangsang bagian otak yang menerima informasi dan bagian yang mengungkapkan informasi, sehingga memudahkan proses mempelajari hal-hal baru dan meningkatkan daya ingat.

2. Olengan Pinggul
Cara: Duduk dilantai. Posisi tangan dibelakang, menumpi ke lantai dengan siku di tekuk. Angkat kaki sedikit lalu olengkan pinggul ke kiri dan ke kanan dengan rileks.
Manfaat: Mengaktifkan otak untuk kemampuan belajar, melihat dari kiri ke kanan, kemampuan memperhatikan dan memahami.

3. Pengisi Energi
Cara: Duduk nyaman di kursi, kedua lengan bawah dan dahi diletakkan di atas meja. Tangan ditempatkan di depan bahu dengan jari-jari menghadap sedikit ke dalam. Ketika menarik napas rasakan napas mengalir ke garis tengah seperti pancuran energi, mengangkat dahi, kemudian tengkuk dan terakhir punggung atas. Diafragma dan dada tetap terbuka dan bahu tetap rileks.
Manfaat: Mengembalikan vitalitas otak setelah serangkaian aktivitas yang melelahkan, mengusir stres, meningkatkan konsentrasi dan perhatian serta meningkatkan kemampuan memahami dan berpikir rasional.

4. Menguap Berenergi
Cara: Bukalah mulut seperti hendak menguap lalu pijatlah otot-otot di sekitar persendian rahang. Lalu melemaskan otot-otot tersebut.
Manfaat: Mengaktifkan otak untuk peningkatan oksigen agar otak berfungsi secara efisien dan rileks, meningkatkan perhatian dan daya penglihatan, memperbaiki komunikasi lisan dan ekspresif serta meningkatkan kemampuan untuk memilah informasi.

5. Luncuran Gravitasi
Cara: Duduk di kurasi dan silangkan kali. Tundukkan badan dengan lengan ke dapan bawah. Buang napas ketika turun dan ambil napas ketika naik. Lakukan dengan posisi kaki berganti-ganti.
Manfaat: Mengaktifkan otak untuk rasa keseimbangan dan koordinasi, meningkatkan kemampuan mengorganisasi dan meningkatkan energi.

6. Tombol Imbang
Cara: Sentuhkan 2 jari ke belakang telinga, pada lekukan di belakang telinga sementara tangan satunya menyentuh pusar selama kurang lebih 30 detik. Lalukan secara bergantian. Selama melakukan gerakan itu dagu rileks dan kepala dalam posisi normal menghadap ke depan.
Manfaat: Mengaktifkan otak untuk kesiapsiagaan dan memusatkan perhatian, mengambil keputusan, berkonsentrasi dan pemikiran asosiatif
(Buku: Brain Gym, Paul E. Dennison PhD, Gail E. Dennison, Penerbit PT. Grasindo)

Semoga bermanfaat ya !

Salam,

[bi-bi]

Media Massa, Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak

Hari-hari terakhir ini, kita hampir tidak dapat dilepaskan dari hingar bingar berita skandal video porno mirip artis yang sudah tersebar bebas di internet. Lepas dari segala kecaman maupun berita yang disorotkan ke artis yang terlibat, kita memang perlu prihatin bahwa tersebarnya rekaman tersebut, sudah terjangkau hingga ke berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Bahkan jauh sebelum kehebohan video ini muncul, kita tentu masih ingat tersebarnya pula rekaman video seks mantan pejabat, mahasiswa, ganti baju artis, dan masih banyak lagi.

Semuanya merupakan aktivitas yang cenderung ditabukan dalam kultur masyarakat kita, terutama bagi anak-anak. Dan tidak dapat dipungkiri, kasus yang melibatkan artis-artis terkenal ini menjadi perhatian public maupun pemerintah yang cukup besar karena mereka adalah figur public, sehingga membuat lebih banyak kalangan yang cenderung ingin tahu, apa yang sedang diberitakan media massa.

Harus kita akui, di jaman yang serba modern ini, penyebaran informasi apapun, baik yang positif maupun negative, relative sulit dihindari, termasuk juga informasi-informasi yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang sudah siap lahir dan batin menerima informasi tersebut. Apalagi, perkembangan internet dan perangkatnya yang semakin murah dan semakin kita butuhkan untuk aktivitas sehari-hari sehingga memungkinkan akses yang semakin mudah.

Tentu tidak akan efektif bila kita sebagai orang tua, hanya sekedar melarang anak kita dan memarahinya bila kita mendapatinya sedang mengkonsumsi informasi yang tergolong dewasa, baik melalui internet, handphone, televisi ataupun alat teknologi lain, karena hal itu akan memunculkan rasa penasaran yang besar pada anak, dan ujung-ujungnya, akan mudah tergoda untuk mencari tahu dalam bentuk praktek nyata, seperti yang kebanyakan diberitakan selama ini di berbagai media massa.

Oleh sebab itu, kunci utama untuk melindungi buah hati kita dari dampak negative kemajuan teknologi, dengan tetap kita mampu memaksimalkan segi positif dari teknologi tersebut, adalah KOMUNIKASI. Seperti layaknya setiap hubungan apapun itu, termasuk hubungan antar suami-istri, KOMUNIKASI merupakan sarana yang paling efektif untuk saling memberikan masukan, saling memahami, saling memberikan pengertian, dan saling belajar satu sama lain dalam mencapai win-win solution di setiap masalah apapun.

Marah, memaksa, melarang, menghukum, maupun tindakan emosional lainnya, cenderung meningkatkan perasaan tertekan dan keinginan memberontak pada anak, yang ujung-ujungnya, akan menyulitkan orang tua dalam penanaman nilai secara tepat.

Komunikasi antar orang tua-anak yang terjalin dengan baik (artinya, anak merasa nyaman setiap kali berkomunikasi dengan orang tuanya, bukan malah tertekan atau takut), akan jauh lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai dibandingkan factor luar. Hanya pada saat anak tidak merasa nyaman ketika ia di rumah, itulah saatnya factor luar (teman, media massa, dll) memberikan pengaruh yang signifikan.

Lantas, bagaimana caranya ber-KOMUNIKASI yang efektif agar anak mudah memahami pengertian yang dimaksud orang tua?

Di sini, dibutuhkan KESESUAIAN antara inti informasi yang dikomunikasikan orang tua dengan perkembangan mental anak, yang umumnya mengikuti perkembangan usianya.

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan intelektual dapat semakin cepat dan semakin dini berkat pengaruh gizi, lingkungan, maupun pola asuh. Namun sebaliknya, perkembangan mental perlu proses sinergi terus menerus antara orang tua-anak-lingkungan hingga anak mulai mampu mengambil tanggung jawab secara mandiri di masa dewasa.

Oleh sebab itu, kami sajikan beberapa tips berikut ini yang dapat dicoba orang tua dalam menanamkan nilai-nilai normative (khususnya terkait perilaku seks bebas):

1. Memanfaatkan Perumpamaan/ Metafora CINTA dan RESMI

Hal ini terutama saat anak berusia di bawah sekurang-kurangnya 7 tahun (sekitar SD kelas 2), bertanya dari mana ia dilahirkan.

  • Lebih baik orang tua menghindari jawaban yang sulit diterima akal sehat karena kelak di masa depan, anak akan sulit percaya kepada orang tua bila ternyata kenyataannya tidak seperti yang disampaikan orang tua.

  • Lebih baik orang tua memberikan jawaban dari Cinta, seperti cerita cinta dongeng Cinderella dan dari Cinta itulah, anak dilahirkan. Maka, konsep terlahir dari “Cinta”, menjadi norma yang terekam di informasi anak.

  • Di atas usia 7 th – awal masa akil balik, orang tua bisa menambahkan konsep “Cinta” tersebut dengan konsep “Resmi”, di mata agama dan hukum, seperti anak yang terlahir dari Cinta yang telah dipersatukan secara resmi oleh agama dan hukum dalam bentuk pernikahan yang sah.

  • Maka ketika anak sudah memasuki masa akil balik (remaja ke atas), nilai-nilai “Cinta” dan “Resmi” sudah terekam di kepribadian anak, sehingga selanjutnya, tugas orang tua relative lebih ringan dengan membimbing anak untuk beradaptasi dengan perubahan fungsi organ tubuh yang sudah mulai matang. Baru pada saat itulah, anak baru dapat belajar mengenai awal mula “Proses Biologis” terbentuknya kelahiran anak dengan nilai-nilai “Cinta” dan “Resmi” yang tertanam.


2. Menunjukkan kebahagiaan yang terpancar dari foto-foto perkawinan orang tua

3. Menunjukkan kebahagiaan yang terpancar dari dokumen kelahiran anak, hasil dari Cinta kasih yang diwujudkan dalam bentuk pernikahan Resmi.

4. Menekankankan dan selalu mengulang kata “Ayah dan Ibu PERCAYA sama Adik (atau nama panggilan anak), dan bahwa Adik akan selalu menggunakan kepercayaan Ayah dan Ibu dengan baik”

5. Menjelaskan bahwa perilaku seks bebas seperti yang ditunjukkan oleh artis maupun orang lain seperti yang diberitakan di berbagai media massa maupun internet, itu bukanlah “Cinta” karena tidak dipertanggungjawabkan secara “Resmi” di hadapan agama dan hukum. Maka dari itu, perilaku semacam itu, tidak akan menghasilkan kebahagiaan bagi diri sendiri.

  • Hal ini-pun berlaku ketika anak sudah menginjak remaja dan mulai menjalin hubungan pacaran, sehingga dengan nilai/ kata kunci “Cinta”, “Resmi”, maupun “Orang tua Percaya” yang telah tertanam dalam prinsip hidup anak, kondisi mental anak akan relative sudah siap untuk menjaga diri sendiri dari godaan untuk melakukan hubungan seksual sebelum waktunya, walaupun dengan pacar sendiri.


6. Yang terakhir dan tak kalah pentingnya, adalah PANUTAN dari orang tua. Tanpa “PANUTAN” yang sesuai dengan kenyataan yang dilihat anak, maka langkah 1 s/d 5 akan menjadi kurang efektif, atau lebih tepatnya, sia-sia.

Seperti sebuah pepatah mengatakan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Demikian juga dengan perkembangan mental pada generasi muda masa datang, khususnya anak-anak kita.

Kita tidak dapat memperbaiki masa lalu, kita tidak dapat menutup diri dari perkembangan jaman, kita juga tidak dapat menghindari kemajuan teknologi yang sangat cepat, tapi kita dapat belajar dari kesalahan dan memperbaikinya demi masa depan yang lebih baik. Dan, itu semua tergantung dari diri kita masing-masing saat ini.

Selamat menjadi orang tua yang berbahagia!  ^_^

Penulis :
Siti Marini Wulandari, M.Psi., Psikolog, dan
Suwito Hendraningrat Pudiono, M.Psi., Psikolog

Anak Sering Memukul

Saya ibu rumah tangga dengan 2 anak. Anak kedua, laki-laki (22 bulan) sering memukul pengasuhnya yang baru, juga kakaknya (3;6). Dia juga sering menangis meronta-ronta jika keinginannya tidak dipenuhi. Mengapa sikap buruk anak muncul? Bagaimana mengatasinya?

Terima kasih.

Vigo Gosetiadi -Bengkulu

Ibu Vigo yang sedang gundah. Mungkin Bu Vigo terkejut menghadapi anak ke-2 yang berbeda dengan anak pertama, tetapi dengan demikian pengalaman Anda semakin kaya dalam menangani perilaku anak-anak, bukankah demikian? Sekalipun kakak beradik lahir dari orangtua yang sama, namun temperamen setiap manusia tidak akan sama persis.

Jadi, pertama-tama terimalah dulu bahwa si bungsu beda karakternya dari kakaknya. Kedua, ambil sisi positif sehubungan dengan keinginan kuat dari anak untuk memperoleh keinginannya, berarti dia tidak mudah digoyahkan. Ketiga, sejak kapan muncul perilaku memukul, berbarengan dengan bekerjanya pengasuh baru? Keempat, janganjangan dia sudah meminta baik-baik tetapi tidak digubris oleh siapa pun, akhirnya dia meronta-ronta/memukul dan ternyata keinginannya terpenuhi. Jadilah dia makin mempertahakan perilaku ini. Sungguh beruntung Ibu berperan sebagai Ibu rumah tangga sehingga banyak kesempatan untuk mengamati perilaku anak.

Memaksakan kehendak menjadi ciri anak usia batita sampai balita, sebab anak belum mampu memahami pandangan orang lain. Tahap ini dikenal sebagai berpikir dan berlaku egosentris. Merontaronta pada anak usia 22 bulan tidak tepat kalau dianggap sebagai  sikap buruk, sebab masih wajar dan merupakan cara yang paling efektif buat anak untuk mencapai sasarannya.

Apa yang harus dilakukan? Berusaha lebih tanggap terhadap kebutuhan anak, mungkin saja dia sudah bosan dengan permainan yang berlangsung, atau mengantuk, lalu mulailah dia mencari gara-gara, meminta hal yang tidak-tidak dan biasa dilarang oleh orangtuanya. Semakin dilarang, semakin menjadi. Oleh karena itu, sebelum dia bosan, segera ajak anak melakukan kegiatan lainnya, atau ketika dia ingin sesuatu dan meminta secara baik-baik, segera tanggapi. Atau kalau Ibu sedang sibuk, katakan “tunggu sebentar” dan segera penuhi permintaannya. Kalau permintaannya tidak mungkin dipenuhi, berikan alternatif lain dan jelaskan kenapa dilarang. Atau ketika dia sengaja ingin menuang air sampai meluap, katakan “tunggu” dan berilah alas waskom besar agar air tidak membasahi lantai.

Dari pengamatan di lapangan, sering kali orangtua tak mengacuhkan tanda-tanda yang ditampilkan anak. Ketika anak mengamuk, barulah diperhatikan. Nah, jadilah anak mengembangkan perilaku negatif ketimbang positif. Begitu bukan? Jadi mulai sekarang coba Ibu perhatikan baik-baik, kenapa si bungsu jadi marah-marah, setelah itu coba tanggulangi sesuai dengan petunjuk yang sudah disampaikan. Mudah-mudahan bisa membantu meringankan tenaga dan beban Ibu. Salam.

Membangun Harga Diri Anak

Sebagai orang tua tentunya kita semua tahu apa yang terbaik untuk anak kita, karena setiap anak adalah unik, mereka memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, kemampuan dan bakat yang berbeda, sifat yang berbeda. Karena itu yang paling memahami anak adalah orang tuanya sendiri.

Namun, berikut adalah sedikit tips dan trick yang mungkin dapat berguna bagi orang tua:

Do…

  • Cintailah anak apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda mencintainya.

  • Berhati-hatilah dengan perkataan anda, orangtua adalah manusia yang tentunya juga bisa khilaf saat marah, namun berusahalah untuk selalu menjaga perkataan anda, karena terkadang kata-kata yang ‘menjatuhkan’ bisa membekas di hati mereka.

  • Berilah pujian atas keberhasilan mereka.

  • Dengarkan lah cerita mereka, berikan simpati atas masalah yang mereka hadapi.

  • Berikan dorongan kepada mereka untuk berpikir sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka senangi.

  • Berikan kesempatan untuk mereka melakukan hal-hal yang baru, jangan tergesa-gesa menawarkan bantuan.

  • Luangkan waktu untuk bersama mereka, sekedar bersantai dan bermain, atau bertukar cerita.

  • Berilah mereka tanggung jawab sesuai dengan umurnya.

  • Ajari mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf pada teman saat melakukan kesalahan.


Don’t…

  • Jangan hanya mencintainya pada saat dia melakukan hal-hal yang sesuai keinginan anda.

  • Jangan membandingkan anak dengan orang lain.

  • Jangan melontarkan kritikan yang tidak membangun, seperti: “Kamu pemalas, tidak berguna”.

  • Jangan menyalahkan anak atas sesuatu yang anda lakukan.

Si Kecil Pilih Kakek Nenek

T ak boleh dibiarkan saja, lo, Bu-Pak. Justru kita harus mendekatkannya kepada siapa saja. Biar hidupnya jadi "kaya".

Bukan tak mungkin, lo, Bu-Pak, si kecil menolak kala diajak ke rumah kakek-neneknya dari pihak ibu atau sebaliknya. Namun bila diajak ke rumah kakek-nenek dari pihak ayah, getolnya bukan main. Bahkan, kerap minta diajak ke sana. Nah, ini biasanya jadi persoalan buat suami atau istri yang orang tuanya enggak "dipilih" oleh sang buah hati. Bahkan, bukan tak mungkin bisa memicu terjadi konflik antara suami-istri maupun antara menantu dengan mertua. Jadi, runyam, kan?

BANYAK FAKTOR

Kedekatan cucu terhadap kakek-nenek, menurut Rahmitha P. Soendjojo, terutama ditentukan oleh jarak atau kedekatan fisik. Jadi, kalau tinggalnya sekota atau malah satu kompleks perumahan, kemungkinan cucu lebih dekat dengan kakek-neneknya ini jauh lebih besar, ketimbang yang tinggalnya berjauhan. Namun begitu, "kedekatan cucu dengan kakek-nenek sebenarnya bisa dibina, kok, tanpa harus si cucu seharian main dan mengobrol di rumah kakek-neneknya atau si kakek-nenek yang main ke rumah cucunya," terang psikolog pada DIA-YKAI, Jakarta ini.

Soalnya, bentuk relasi kakek-nenek dengan cucu ini dipengaruhi pula oleh bentuk relasi dalam keluarga asal ayah-ibu. "Mereka yang dibesarkan dalam keluarga hangat, umumnya akan mewariskan kehangatan pula kepada generasi berikutnya." Itu sebab si cucu akhirnya cuma mau dekat sama kakek-nenek dari pihak keluarga yang memberi kehangatan ini. Sebaliknya, "mereka yang tumbuh dalam keluarga dingin dan cenderung menjaga jarak, juga akan membawa aura semacam ini kepada anak-cucunya."

Namun ini pun bukan harga mati, lo, karena masih ada situasi-situasi tertentu yang ikut mewarnai bentuk relasi cucu dengan kakek-neneknya. Antara lain, penerimaan kakek-nenek terhadap menantu, semisal mertua yang kurang menyetujui perkawinan anaknya dengan si menantu. Otomatis, kakek-nenek ini juga akan menjaga jarak terhadap cucunya. Situasi lain, posisi-posisi tertentu yang membuat kakek-nenek memperlakukan cucunya secara istimewa, seperti cucu dari anak sulung, anak kesayangan, atau anak yang paling berhasil cucu laki-laki pertama atau cucu yang sudah lama dinanti-nantikan kehadirannya, dan lainnya.

POSISI NETRAL

Jadi, jangan cuma lihat negatifnya saja, ya, Bu-Pak, bila si kecil lebih dekat dengan kakek-neneknya dari pihak pasangan kita. Saran Mitha, begitu psikolog ini biasa disapa, cari tahu mengapa anak kita tak mau dekat dengan kakek-neneknya dari pihak kita: apakah lantaran jarak rumah yang jauh ataukah karena beliau lebih hangat, gampang memberi pertolongan, mau dititipi si kecil tanpa banyak alasan, dan sebagainya. "Semua fakta ini sangat menunjang kedekatan cucu dengan kakek-neneknya, baik dari pihak ayah maupun ibu."

Namun kita tak perlu menyalahkan kakek-nenek yang enggak dekat dengan cucunya ini, lo. Misal, "Habis, sih, Papa-Mama pilih kasih sama cucu. Jadinya si Kakak enggak mau, deh, setiap diajak ke rumah Oma-Opanya." Justru kita punya kewajiban untuk berusaha mendekatkan beliau dengan cucunya dan mendudukkan diri pada posisi netral. Terlebih jika sampai terjadi rebutan cucu di antara kedua kakek-nenek ini, "mengapa enggak kita cut off saja untuk sementara waktu?" ujar Mitha. Dengan begitu, akan menunjukkan otorita kita sebagai orang tua.

Kita pun tak boleh menuruti begitu saja bila si kecil yang tegas-tegas menunjukkan antipatinya terhadap salah satu kakek-neneknya. "Tanyakan alasannya dan carikan solusinya berdasarkan keberatannya tadi." Misal, si Kecil bilang, "Habis,Kakek-Nenek suka ngomel, sih. Aku enggak boleh naik-naik atau loncat-loncat. Kan, sebel kalau serba dilarang!"

Jika kakek-neneknya sudah sepuh, "tentu sudah wajar, dong. Orang setua beliau, kan, memang tak suka lagi berhadapan dengan kebisingan dan hiruk-pikuk anak berlarian ke sana ke mari. Terlebih lagi bila si anak enggak ada yang menjaga," bilang Mitha. Nah, jelaskan kondisi faktual ini pada si kecil, bahwa kondisi inilah yang memunculkan berbagai larangan itu. Selain, kita juga harus lihat kondisi si kecil. Bila memang ia termasuk anak lasak, "kita harus memutuskan untuk tetap berkunjung tapi dengan waktu yang lebih singkat. Tentu sambil tetap memberi pengertian pada anak agar ia tak terlalu lasak di sana."

Lain cerita bila kakek-nenek masih segar bugar, apalagi jika si kecil didampingi pengasuhnya. "Boleh jadi sebagai tuan rumah, beliau enggak suka rumahnya berantakan. Namun kita tetap harus menghargainya dan ajarkan pada anak untuk belajar menghargai keinginan orang lain." Kita pun bisa bekerja sama dengan kakek-nenek untuk menyediakan tempat yang bisa di"obrak-abrik" si kecil. Toh, tak setiap sudut rumah enggak boleh dijamah, kan? Dari cara ini, kita sekaligus mengajari si kecil mengakomodir dan beradaptasi dengan situasi-situasi yang tak bisa dihindarinya, hingga kakek-neneknya tak merasa terganggu dan si kecil pun tak kecut hatinya. Dengan begitu, kita sebetulnya juga telah mengajari si kecil untuk mencari alternatif solusi menghadapi kakek-neneknya, kan?

INGATKAN KAKEK-NENEK

Yang mesti diwaspadai, jika anak kita merupakan cucu kesayangan. Soalnya, si kakek-nenek biasanya kelewat memanjakan. Hingga, kita jadi repot karena setiap kali anak kembali ke rumah, kita harus meluruskan sekaligus menegakkan disiplin yang selama ini sudah berjalan. Anak pun jadi bingung melihat di rumahnya sangat disiplin sementara di tempat kakek-neneknya longgar sekali, "Kok, enakan di rumah Kakek-Nenek, ya, aku boleh makan permen, es krim, boleh nonton TV sepuasnya." Hingga, ia mau ke rumah beliau hanya lantaran alasan-alasan tersebut. Ini jelas tak baik karena merugikan anak untuk jangka panjang.

Hati-hati, lo, Bu-Pak. Si Kecil akan tumbuh jadi anak yang sangat manja. "Ia pun akan kerap cari pelarian di rumah kakek-neneknya. Bukankah di rumahnya enggak enak?" bilang Mitha. Tak hanya itu, "ia juga tak pernah belajar menahan keinginan, menunda, serta membedakan mana yang kebutuhan dasar dan sekadar keinginan. Bukankah kalau ia tak mendapat dari orang tuanya, ia tinggal minta sama kakek-neneknya dan pasti dapat? Akibatnya, kalau ia sudah menginginkan sesuatu, tak bisa ditawar-tawar lagi: harus dapat sekarang juga!" Celaka, kan?

Bukan berarti kakek-nenek tak boleh memanjakan cucu, lo. Kalau cuma sesekali tentu tak jadi soal, semisal ulang tahun atau pada hari raya maupun kesempatan khusus seperti naik kelas atau si kecil jadi juara lomba. Dengan demikian, kita perlu memberi tahu beliau untuk bersikap sewajarnya saja terhadap cucu. Kemudian, agar beliau tak terlalu mengistimewakan si kecil, kita pun perlu mengingatkan bahwa masih ada cucu-cucu lain yang juga ingin mendapat perhatiannya, sambil tetap mengapresiasi penghargaan dan terima kasih kita.

Sekalipun beliau mertua, menurut Mitha, sah-sah saja kita "menegur"nya. Yang penting, bagaimana cara kita ngomongnya. "Kalau kita bisa membuat kalimat-kalimat yang efektif tanpa harus menyinggung perasaan beliau, sebenarnya, kan, enggak masalah," tutur lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, Bandung ini. Misal, kita enggak senang si kecil yang terbiasa tidur siang lantas merdeka kala menginap di rumah kakek-neneknya. Nah, kita bisa bilang, "Ma, saya khawatir si Adek akan rewel nanti malam kalau enggak tidur siang. Apalagi selama ini kami juga sudah membiasakannya tidur siang. Jadi, biarin aja, deh, Ma, dia tidur siang."

Jadi, tekankan pada kekhawatiran kita bahwa kalau kebiasaan itu dihilangkan, akan merusak ritmenya. Jikapun si kecil tak mau tidur siang lantaran ada hal-hal lebih mengasyikkan, tapi bentuk penggantinya harus berupa kesenangan di tempat tidur atau kegiatan yang sifatnya istirahat. Kita boleh, kok, melakukan modifikasi atau penyesuaian di sana-sini, tapi aturan-aturan tetap harus jalan.

Namun jika beliau memang tipe mertua yang susah diintervensi menantu, saran Mitha, "Bicarakan dengan pasangan agar ia yang menyampaikan kepada orang tuanya." Bukankah ayah dan ibu punya tanggung jawab sama untuk meluruskan hal-hal yang tak pada tempatnya?

JANGAN TANAMKAN BENCI

Menurut Mitha, orang tua sepatutnya membiarkan anak dekat dengan siapa saja karena akan memperkaya kehidupan anak. Arisan dan pertemuan keluarga, misal, sebetulnya bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjalin keakraban di antara kerabat, terutama mendekatkan si kecil dengan saudara-saudara sepupu maupun keluarga besarnya. Selain, untuk mengantisipasi kalau-kalau kelak mereka sudah besar tidak pacaran dengan saudara dekat, misal. Anak pun jadi belajar bertemu orang dan situasi baru, hingga tak kuper alias kurang pergaulan.

Sekalipun hubungan kita dengan orang tua/mertua enggak bagus, "jangan sampai anak terkontaminasi oleh memburuknya hubungan ayah-ibu dengan kakek-nenek." Jikapun si kecil tahu lantaran mendengar dari orang lain semisal om-tantenya, kita wajib membantu ia memilah-milah dengan tak memberi penilaian buruk. Bukan berarti kita harus berpura-pura menutupi kejelekan kakek-nenek, lo. "Sampaikan saja faktanya dan bagaimana kita menyikapi fakta itu secara positif, tapi tanpa disertai rasa tak suka atau emosi berlebihan."

Pendeknya, kita tak boleh menanamkan kebencian atau kedengkian pada si kecil terhadap kakek-neneknya, melainkan harus mengupayakan terus agar si kecil memperoleh imej positif tentang kakek-neneknya. Meski si kakek-nenek termasuk orang yang bertemparamen kasar dan kurang menyenangkan, misal, kita tetap harus selalu berupaya menetralisir keadaan. Namun kita boleh melakukan penghindaran, lo, salah satunya dengan berjauhan fisik. Artinya, kita berkunjung hanya pada waktu-waktu tertentu saja semisal ulang tahun, hari raya, dan hari istimewa lain. Ini lebih baik ketimbang sering datang tapi saling cuek atau malah ribut. Ingat, lo, si kecil di masa balita ini lagi kuat-kuatnya meniru. Nah, jika ia sampai meniru hal-hal jelek dari pertemuan tersebut, kan, celaka.

Bila diluar waktu-waktu tersebut si kecil minta ke rumah kakek-neneknya, sebaiknya kita telepon dulu untuk memberitahukan hal tersebut dan menanyakan apakah beliau tidak sedang repot, misal. Jika beliau berkenan, cukup kita antarkan saja si kecil dan menjemputnya lagi kemudian saat ia mau pulang. Tentu saja, agar tak memunculkan friksi baru, kita pun harus mengerem kunjungan ke rumah kakek-nenek yang kebetulan memiliki kedekatan dengan si kecil.

Nah, Bu-Pak, hal ini tentulah bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga buat kita sebagai calon kakek-nenek. Jangan sampai cucu-cucu kita nanti jauh dari kita gara-gara sikap kita sendiri.

SEJAUH MANA KAKEK-NENEK BOLEH TERLIBAT?

Menurut Mitha, tergantung pada kesepakatan keluarga bersangkutan. "Bila kakek-nenek diberi tanggung jawab cukup besar sebagai "tempat penitipan anak" selagi ayah-ibu bekerja, mau tak mau mereka terlibat agak dalam karena ikut mengurusi tetek-bengek keperluan cucunya."

Idealnya, bila sudah berumah tangga, masalah apa pun yang muncul menjadi tanggung jawab suami-istri. Jadi, bila suami-istri lebih kerap "melapor" ke orang tuanya begitu muncul masalah ketimbang mencoba menyelesaikannya sendiri, "tak heran bila orang tua alias si kakek-nenek ini akhirnya jadi ikut campur melulu dalam urusan rumah tangga anaknya," tandas Mitha.

Julie/Th.Puspayanti/nakita

CORONA

hmmm... sudah lama tdk sekolah, sejak ada virus corona sekolah libur, kantor libur dan toko banyak yang tutup. Sejak bulan Maret 2020 sekola...